Berita

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock

Dunia

Baerbock Dorong Pengurangan Ketergantungan pada China, Analis Sarankan Dengar Suara Bisnis Jerman di Tiongkok

SABTU, 15 APRIL 2023 | 06:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Usai dikunjungi Presiden Prancis Emmanuel Macron, China kembali menerima kunjungan pejabat tinggi Eropa yaitu Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock, yang menjadi sorotan para analis di Beijing.

Sejumlah ahli berpendapat, kunjungan itu, yang terjadi di tengah interaksi intensif China-UE, menandakan rekalibrasi besar-besaran pertukaran tingkat tinggi China-UE, dan dapat membuka jalan bagi dimulainya kembali kerja sama lebih lanjut dalam bidang politik dan ekonomi.

Global Times pada Jumat (14/4) menulis, mengingat bahwa Baerbock telah lama menganjurkan pendekatan yang keras terhadap China, para ahli di Beijing percaya bahwa tidak realistis untuk mengharapkan pejabat Jerman memiliki sikap positif yang sama terhadap China seperti yang dipegang Macron.


Baerbock memulai kunjungan tiga harinya di Tianjin China Utara pada Kamis (13/4) waktu setempat, di tengah perdebatan Eropa dalam beberapa hari terakhir tentang bagaimana menghadapi China setelah seruan Macron agar Eropa mengurangi ketergantungannya pada AS.  

Dalam pernyataan yang dirilis menjelang perjalanan, Baerbock menggambarkan China sebagai pesaing, saingan sistemik, dan pemain global yang semakin ingin membentuk tatanan dunia sesuai dengan rancangannya sendiri.

Menurut Baerbock, meskipun tidak tertarik pada pemisahan ekonomi dari China, Jerman tetap memiliki tujuan  menghindari risiko dengan mengurangi ketergantungan ekonominya.

Tetapi Sun Keqin, seorang peneliti di China Institutes of Contemporary International Relations, mengatakan bahwa terlepas dari sikap keras Baerbock terhadap China, kebijakan China-Jerman memiliki konsistensinya sendiri dan dia tidak dapat menentang peta jalan yang ditetapkan oleh Kanselir Olaf Scholz saat berkunjung pada November 2022.

Cui Hongjian, direktur Departemen of European Studies di China Institute of International Studies, ikut mengomentari kunjungan Baerbock.

"Karena ini adalah kunjungan pertamanya ke China sebagai menteri luar negeri, kunjungan tersebut diharapkan dapat membantu membentuk pandangan yang lebih objektif dan komprehensif tentang hubungan China dan China-Jerman, tetapi tidak realistis untuk mengharapkan ekspresi yang benar-benar positif," kata Cui.

Ia percaya bahwa kunjungan Baerbock berfungsi sebagai langkah pertama ke lebih banyak dialog yang akan membantu menstabilkan hubungan China-Jerman.

Media Jerman Deutsche Welle melaporkan bahwa Baerbock akan mengunjungi sebuah sekolah di Tianjin yang mengajarkan bahasa Jerman pada Kamis serta pabrik turbin angin milik sebuah perusahaan Jerman.

“Kerja sama kedua negara berkembang pesat sejak era Merkel. Meskipun Baerbock menyerukan pengurangan ketergantungan pada China, perusahaan Jerman telah membuat pilihan sendiri dengan mempertimbangkan kepentingan mereka. Dan ada baiknya dia mendengarkan suara dari Kalangan bisnis Jerman di China lebih dulu," kata Sun.

Sebagai ekonomi terbesar di Eropa, Jerman harus terus mempertahankan dan memajukan hubungan bisnis dan perdagangan dengan Tiongkok.

"Hanya ketika Jerman memastikan statusnya di dalam Eropa, Jerman dapat memainkan peran yang lebih signifikan di blok tersebut," kata Cui.

Perjalanan Baerbock terjadi ketika lebih banyak pejabat Eropa bereaksi terhadap pernyataan Macron .

Macron membela pendekatannya ke AS dan China dengan mengatakan bahwa menjadi sekutu tidak berarti menjadi pengikut.

Dia sebelumnya mengatakan kepada media bahwa Eropa harus menghindari terjerat dalam konflik yang bukan urusannya, dan tidak boleh bertindak sebagai "pengikut" AS ketika menyangkut masalah Taiwan.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyayangkan komentar Macron.

Mengomentari pernyataan Macron tentang otonomi strategis Eropa dan pertanyaan Taiwan, Duta Besar Prancis untuk China, Bertrand Lortholary, mengatakan kepada Global Times pada Kamis bahwa berdebat dan mendengarkan suara yang berbeda adalah hal yang baik, dan mengungkapkan pendapat yang berbeda adalah sesuatu yang dihargai di Perancis.

"Prancis adalah sekutu dekat AS dengan sejarah panjang dan kami juga sekutu di NATO. Tapi itu tidak berarti bahwa kami selalu memiliki pandangan yang sama. Kami bisa menjadi sekutu tetapi dengan perbedaan," kata Lortholary.

"Prancis juga menjadi negara Barat pertama yang mengakui RRC pada tahun 1964, yang merupakan keputusan independen yang dibuat sendiri dan keputusan yang tidak pernah kami sesali," kata utusan Prancis itu.

Mengenai pernyataan Macron tentang Taiwan, Lortholary mengatakan, sudah umum diketahui bahwa Prancis mengakui kebijakan satu-China yang tidak pernah berubah.

"Tujuan mendasar kami adalah menjaga stabilitas dan perdamaian, tidak hanya di Selat Taiwan tetapi juga di tempat lain di seluruh dunia," lanjut Lortholary.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya