Berita

Yudhi Hertanto/Net

Publika

PIALA DUNIA U-20

Wajah Politik Sepak Bola

KAMIS, 30 MARET 2023 | 14:29 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KECEWA. Sebagian kalangan menanggapi gagalnya Indonesia bertindak sebagai tuan rumah World Cup U-20 FIFA dengan rasa penyesalan.

Sementara sebagian lainnya menilai hal tersebut sejalan dengan prinsip dukungan kita atas kemerdekaan Palestina. Tersebab persoalan kehadiran Timnas Israel sebagai peserta acara Piala Dunia U-20.

Begitulah wajah kita, selalu ada dalam dua sisi berbeda.


Tetapi tidak ada yang salah atas kedua cara berpikir itu, keduanya memiliki dasar pemikiran terkait. Pada kelompok pertama, mereka menanggapi Piala Dunia U-20 sebagai ajang olahraga populer sejagat, menghadirkan peningkatan prestasi, potensi ekonomi hingga mendukung persatuan dunia, bisa jadi ada benarnya.

Di lini masa media sosial, keriuhan terjadi. Timnas Indonesia pada akhirnya juga gagal tampil di pentas Piala Dunia. Hal itu merupakan konsekuensi, karena tiket berlaga yang didapat merupakan hak istimewa bagi negara yang bertindak sebagai penyelenggara. Jatah bermain di level dunia melayang sudah.

Sedangkan keberadaan timnas Israel lolos ke Piala Dunia U20 adalah hasil prestasi dalam kompetisi, dimana induk sepakbola ada dalam pengelolaan mandiri FIFA.

Dengan begitu, kancah pertandingan yang bersifat internasional seperti ini, adalah murni tentang olahraga. Pada bagian tersebut perlu penjelasan terpisah.

Sementara, pada kelompok kedua, sepak bola tidak terpisah dengan ekspresi sosial politik, karenanya kehadiran timnas Israel juga menjadi representasi atas pengakuan eksistensi negara zionis tersebut yang selama ini melakukan penguasaan atas tanah Palestina.

Indonesia berada pada sisi dukungan bagi perjuangan dan kemerdekaan Palestina. Pemahaman ini juga tidak salah.

Bila kemudian ada suara yang hendak menyampaikan, bahwa hendaknya sepak bola dilepaskan dari ranah politik, hal ini tampaknya juga tidak terlalu tepat. Kalau sempat menonton film dokumenter Netflix yang berjudul FIFA Uncovered, 2022, kita memahami bagaimana FIFA juga kerap bertindak secara politis.

Pada konteks lokal, soal Piala Dunia U-20 dan kedatangan timnas Israel juga tidak akan viral kalau tidak diberi bobot politik. Kepala daerah menolak, ditambah dengan partai politik. Bahkan ketua PSSI yang juga menteri, diperintah presiden untuk melobi FIFA. Semua seperti tampak sedang bermain bola di gelanggang.

Tidak terang-benderang sepakbola bisa dipisahkan dari politik. Lihat saja, bagaimana Argentina di tahun 1978, yang kala itu dipimpin Jorge Rafael Videla menyelenggarakan Piala Dunia, di tengah citra pemerintahan anti demokrasi dan pemberangusan demonstran di negeri tango, untuk memperoleh citra positif.

Lebih jauh lagi, ide tentang tuan rumah yang beroleh untung dari perhelatan besar olahraga, juga kerap kali tidak terbukti.

Merujuk buku, Brazilian Football and Their Enemies, 2014, yang dirilis Pandit Football Indonesia tentang bagaimana Brazil bertindak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 dengan biaya yang besar di tengah performa ekonomi yang tidak baik, justru menyedot pembiayaan besar untuk berbagai venue kegiatan.

Atau bila merujuk sejarah, Bung Hatta juga pernah mengkritik keras penyelenggaraan Asian Games 1962 di Jakarta oleh Presiden Soekarno. Proyek mercusuar dibangun di atas kondisi yang tidak stabil ekonomi dalam negeri.

Momentum Pembenahan

Bagaimana bersikap dari situasi yang terjadi? Tentu kondisinya sudah final, Indonesia batal menjadi penyelenggara Piala Dunia U-20, timnas pun tidak ikut bertanding, bahkan kemungkinan FIFA menjatuhkan sanksi atas kondisi tersebut, maka berbenah diri yang perlu dilakukan.

Momentum ini, menjadi lapangan riil yang praktis merupakan pekerjaan pengurus PSSI terpilih untuk membenahinya. Bukan hanya sekadar kemampuan retorika kampanye saat pemilihan semata.

Pada pemilihan terakhir, setidaknya dua menteri berkontestasi di ajang pemilihan ketua PSSI, bahkan menteri olahraga pun mundur dari kursinya untuk berfokus di PSSI, mungkin sedang berhitung aspek strategis dari posisi olahraga populer itu.

Penguatan kompetisi sepak bola nasional. Penjaringan bibit berkualitas dari penjuru negeri. Termasuk membangun budaya sportivitas adalah pekerjaan rumah yang masih tersisa. Belum lagi bila menyoal kejadian di Kanjuruhan, Malang.

Karena hidup itu layaknya bola yang digocek ke kiri dan ke kanan, berputar atas dan bawah, mulai titik ini mereka yang sudah terpilih untuk secara profesional mengelola olahraga sepak bola Indonesia perlu diminta bekerja dengan bersungguh-sungguh.

Sebab kita berharap bisa masuk piala dunia bahkan menjadi juaranya, dengan berbekal kemampuan bertandingnya secara berjenjang dari kompetisi ke kompetisi di berbagai tingkatan.

Semoga saja kejadian ini menjadi sarana pembelajaran.

Penulis tengah Menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya