Berita

Menko Polhukam Mahfud MD/Net

Publika

Dalil Mahfud MD di Senayan

OLEH: MOCH EKSAN*
KAMIS, 30 MARET 2023 | 14:20 WIB

LEPAS dari substansi kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sebesar Rp 349 Triliun, perdebatan antara Menkopolhukam Prof Dr Mahfud MD dengan para anggota Komisi III DPR RI pada Rabu, 29 Maret 2023, sangat menarik. Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut menjadi semacam "pengadilan politik" bagi Mahfud.

Yang paling menarik, ternyata jawaban Mahfud atas tudingan telah melampaui kewenangan karena telah menyampaikan pada publik soal transaksi janggal di Kemenkeu. Gurubesar Universitas Islam Indonesia (UII) ini mengungkapkan apa yang dilakukannya tidaklah salah. Sebab, tidak ada larangan menyampaikan hal itu pada media.

Sampai-sampai Mahfud mengutip kaidah hukum Islam dan hukum pidana umum. Mantan Mahasiswa Fakultas Hukum UII dan Sastra Arab Univeritas Gajah Mada (UGM) ini mengutip kaidah berbunyi berikut:


والأصل في العقود والمعاملات الصحة حتى يقوم دليل على البطلان والتحريم

Hukum asal dalam berbagai perjanjian dan muamalat adalah sah sampai adanya dalil yang menunjukkan kebatilan dan keharamannya. (I’lamul Muwaqi’in, 1/344).

Siswa jebolan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun Pamekasan Madura, juga mengutip pendapat ahli hukum Jerman, Ansem Von Feuerbach dari adagium Latin yang berbunyi berikut:

Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali” (tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa peraturan lebih dahulu).

Dalil-dalil Mahfud di atas, nampaknya membuat Ketua Komisi III Ahmad Sahroni, terlihat memukul meja sebagai apresiasi terhadap  penguasaan Mahfud dalam khazanah hukum Islam dan umum. Sementara, para anggota lain menggeleng-gelengkan kepala wujud kagum atas wawasan hukumnya yang sangat luas.

Saya berulang-ulang mendengarkan kutipan Bahasa Arab Mahfud. Ada sedikit kesalahan baca pada kata "hatta yaquma". Alumni Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Waru Pamekasan ini mengucapkan kata tersebut dengan "hatta yaqumu".

Dalam Gramatika Bahasa Arab, kata "hatta" adalah harfu khadhfin (huruf yang menasabkan) fi'il mudhari'. Sehingga kata "yaqumu" bila kemasukan kata "hatta", maka harus dibaca "hatta yaquma" bukan "hatta yaqumu". Seperti contoh dalam firman Allah:

(حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوْسَى.) – “Hingga Mūsā kembali kepada kami” (QS Thāhā: 91).

Namun demikian, kesalahan ucap Mahfud tidak mengurangi substansi kebenaran kaidah hukum Islam yang ada di dalam kitab karya Ibnu Qayyim Al-Jauziah. Dalil dari kitab I'lamul Muwaqi'in membungkam mereka yang muskil terhadap dasar hukum langkah suami Hj Zaizatoen Dihayati asal Semboro Jember ini.

Nampak sekali, Mahfud benar-benar ahli hukum paripurna di Indonesia sekarang. Putera Bangsa kelahiran Sampang, 13 Mei 1957 ini menguasai teori dan praktek hukum dengan sangat baik.

Penguasaan terhadap khazanah hukum Islam klasik para mufti besar abad pertengahan, serta  pengalamannya sebagai dosen, staf ahli, Menteri Kehakiman dan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), semua itu memudahkan untuk mematahkan serangan para ahli hukum di parlemen.

Jadi, sesungguhnya adu gagasan Mahfud dan para anggota parlemen, kian mengukuhkannya sebagai pendekar hukum pilih tanding di Tanah Air.  Geger Senayan yang diwarnai ancam mengancam antar keduanya, menjadi totonan publik yang sangat menarik di tengah umat menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Pasti banyak yang penasaran, bagaimana kelanjutan ocehan Mahfud serta kemana ending dari kasus dugaan TPPU terbesar dalam sejarah republik. Saya yakin, banyak pihak yang harap-harap cemas di aksi buka-bukaan ini.

Namun yang harus digarisbawahi, keterbukaan bukan semata untuk keterbukaan. Apalagi sekadar menjadi "panggung politik" untuk kepentingan elektoral. Keterbukaan mesti ditempatkan untuk kepentingan peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan negara selain untuk mewujudkan good governance.

*Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya