Berita

Ayatollah Ali Khamenei/Net

Dunia

Ancam Peracun Siswi Iran, Ayatollah Ali Khamenei: Tidak Ada Ampun untuk Pelaku

SELASA, 07 MARET 2023 | 06:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kasus keracunan yang dialami puluhan siswi Iran akhirnya mendapat komentar untuk pertama kalinya dari pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Berbicara pada upacara penanaman pohon di kantornya, Senin (6/3), Khamenei menyebut peracunan siswi di seluruh negeri sebagai kejahatan yang tak termaafkan dan mengatakan pihak berwenang harus secara serius menindaklanjuti masalah yang telah menimbulkan keresahan.

"Ini adalah kejahatan besar dan tak termaafkan," kata Khamenei, seperti dikutip dari The National.


“Kalau terbukti para siswi diracun, pelaku kejahatan ini harus dihukum seberat-beratnya. Tidak akan ada ampunan untuk orang-orang ini," katanya.

Keracunan yang dialami puluhan siswi di beberapa sekolah di Iran, dimulai pada lima bulan lalu ketika protes anti-pemerintah nasional melonjak setelah kasus meninggalnya Mahsa Amini, seorang wanita muda yang ditangkap oleh polisi moralitas pada September tahun lalu.

Lebih dari 1.000 siswi telah terkena dampaknya, menurut pejabat, dengan kasus baru dilaporkan pada Sabtu ini.

Pendukung gerakan protes menuduh pemerintah, dan khususnya Korps Pengawal Revolusi Islam berada di balik peracunan tersebut.

Rekaman yang diposting di media sosial dari korban yang dicurigai menunjukkan gadis-gadis menangis, menjerit dan batuk, dengan banyak yang kesulitan bernapas.

Seorang jurnalis Iran yang melaporkan peristiwa tersebut, Ali Portbatabei, telah ditangkap, menurut Radio Farda pada Senin. Jurnalis itu tinggal di Qom di mana lebih dari selusin siswi dibawa ke rumah sakit setelah dugaan serangan keracunan pada bulan November.

Sekelompok profesional medis Iran di AS dan Eropa telah mendesak organisasi internasional untuk menyelidiki apa yang mereka gambarkan sebagai "serangan terencana" oleh rezim dengan menggunakan zat yang digunakan dalam perang kimia.

“Sebagai dokter, kami memandang krisis di Iran ini sebagai skenario potensi korban massal,” kata mereka dalam surat terbuka yang dibagikan di media sosial.

“Republik Islam tampaknya tidak mampu atau tidak mau mengelola bencana ini,” lanjut surat itu.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya