Berita

Rafael Alun Trisambodo usai menjalani pemeriksaan KPK/RMOL

Publika

Sebaran Efek Kasus Mario Dahsyat

KAMIS, 02 MARET 2023 | 17:10 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

TIADA orang seterkenal Rafael Alun, sekarang. Pejabat pajak itu diperiksa KPK selama 8,5 jam, Rabu (1/3). Keluar dari Gedung KPK Jakarta, ia disambut ratusan wartawan, minta komentar. Ia bukannya senang, malah menunduk.

Waktu bertanya buat wartawan sangat singkat. Cuma mengikuti Rafael berjalan dari lobby gedung menuju halaman, mendekati mobilnya. Apalagi jalannya Rafael dicepat-cepatkan. Ya... campur-aduk, kepontal-pontal.

"Bagaimana Pak pemeriksaannya?" Atau, ada yang: "Berapa pertanyaan penyidik, Pak?" Malah ada yang: "Harta Bapak sebenarnya berapa?"


Tapi tidak ada yang bertanya: "Sebenarnya Bapak ini korupsi apa enggak, sih?" Tidak ada pertanyaan itu. Padahal, sebenarnya saat itulah wartawan bisa ngerjain orang, dengan pertanyaan sengit. Terkait harta Rafael Rp 56,1 miliar yang dilaporkan dalam LHKPN.

Saking pusingnya, Rafael menjawab: "Kasihanilah saya..."

Lha... kok begitu? Karena Rafael mengaku sudah lelah setelah diperiksa delapan setengah jam.

Rafael lantas menaiki mobil Toyota Innova putih. Buru-buru ia menutup pintu, dan wajahnya segar lagi. Mobil pun melaju.

Deputi Pencegahan KPK, Pahala Nainggolan kepada pers di kantornya, Rabu (1/3) mengatakan, "Proses klarifikasi ini bukan hanya sekali. Saya pastikan, bukan hanya sekali. Karena pasti lagi."

Mengejutkan, Pahala menyebut, KPK menyelidiki ada Geng Rafael.

Pahala: "Kita pastikan, sesudah yang bersangkutan, pasti ada lagi orang-orang lain. Yang kami kan dengar juga ada gengnya. Tapi kita kan perlu tahu polanya."

Geng Rafael ini hal baru. Rembetan, diawali anak Rafael, Mario Dandy Satriyo (20) menganiaya David (17) secara brutal sampai koma sejak Senin, 20 Februari 2023 sampai Rabu, 1 Maret 2023, lantas Rafael dicopot Menteri Keuangan, Sri Mulyani, lalu ada geng itu.

Kemudian buru-buru Pahala mengatakan: "Tapi, kalau dibilang geng, ya bukan kayak geng anak SMP, ngumpul-ngumpul gitu. Kita dapat informasi saja kalau si ini sama, si itu. Kita lihat nanti. 'oh iya... perjalanannya nyambung di beberapa tempat'. Itu yang saya maksud geng. Jadi jangan dianggap geng, dia berkomplot, enggak jugalah."

Meskipun wartawan bingung mencerna kalimat geng itu, tapi tak sempat bertanya detail, sebab penjelasan berlanjut ke topik-topik lain seputar Rafael. Beruntun.

KPK gesit menangani ini. Rumah mewah milik Rafael di Yogyakarta diperiksa tim KPK. Juga perumahan mewah di Minahasa Utara seluas 6,5 hektar. Ternyata milik istri Rafael. Atas nama dua perusahaan milik istri Rafael.

Mobil-mobil mewah, ada yang milik saudaranya, ada yang milik menantu Rafael. Menyebar pokoknya. Tapi, Jeep mewah Rubicon yang dibawa Mario saat menganiaya David, diakui KPK, atas hasil pemeriksaan, bukan milik Rafael.

Kasus ini juga menyenggol mantan Ketua KPK, Abraham Samad. Karena, Menko Polhukam, Mahfud MD ketika ditanya wartawan, mengatakan bahwa pada 2012 PPAK sudah melaporkan transaksi mencurigakan di LHKPN Rafael kepada KPK. Tapi, KPK tidak menanggapi. Diam saja.

Abraham Samad, Ketua KPK periode 2011-2015 kepada pers, Selasa (28/2) mengatakan:

“Jadi, yang sebenarnya terjadi PPATK melaporkan (transaksi mencurigakan) ke Kejaksaan Agung, kemudian KPK cuma ditembuskan saja laporannya. Jadi, pernyataan (Mahfud) itu tidak tepat.”

Maksud Abraham, PPAK melapor ke Kejaksaan Agung dengan tembusan laporan ke KPK. Maka, KPK diam saja. Dikira itu akan diusut Kejaksaan Agung. Ternyata juga tidak diurus oleh Kejaksaan Agung.

Ada lagi. Menurut Samad, Undang-undang KPK saat itu menyatakan bahwa penyelenggara negara yang ditangani KPK, minimal pejabat eselon II. Hal itulah yang membuat PPATK melaporkan transaksi mencurigakan Rafael ke Kejaksaan Agung, bukan ke KPK.

Abraham: “Karena pada saat itu mungkin Rafael Alun masih pejabat eselon III atau mungkin IV di Direktorat Pajak Kementerian Keuangan."

Pokoknya, laporan PPATK pada sepuluh tahun silam tidak ditangani. Setelah heboh kasus Mario, barulah seperti tergopoh-gopoh memeriksa Rafael.

Soal pengunduran diri Rafael sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) ditolak oleh Kementerian Keuangan.

Wakil Menkeu, Suahasil Nazara dalam konferensi pers, Rabu (1/3) mengatakan:

"Kami sampaikan di sini, bahwa berdasarkan PP 11/2017 sebagaimana terakhir diubah PP 17 Tahun 2020 dan kemudian juga peraturan Kepala BKN 3/2000, maka pegawai yang sedang di dalam proses pemeriksaan tidak dapat mengundurkan diri."

Maka, status Rafael kini tetap ASN. Meskipun Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah memutuskan, mencopot jabatan Rafael. Sehingga, status Rafael kini ASN tanpa pekerjaan.

Imbas kasus Mario ini merembet ke mana-mana. Terlalu seru. Bahkan, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri ikut komentar.

Megawati berbicara dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dia mengkritik pamer kekayaan yang dilakukan pejabat pajak.

Megawai: "Saya 100 persen mendukung beliau, Bu Sri Mulyani, mengenai masalah yang sangat memalukan di bidang keuangan, di bidang pajak," kata Megawati, di Kantor Pusat BRIN di Jakarta, Rabu (1/3).

Dilanjut: "Saya melihat sendiri, di kalangan birokrat itu gimana, untuk apa Indonesia merdeka kalau rakyatnya sendiri, birokratnya sendiri, sudahlah...,"

Sedangkan, David yang dianiaya Mario, masih koma di RS Mayapada, Kuningan Jakarta. Tapi, respirator sudah dilepas dari hidungnya.

Kasus ini juga membuat banyak motor mewah Harley Davidson dijual. Gegara, Mario suka pamer motor seharga Rp 1 miliar-an itu. Kondisi ini juga dipantau KPK, dan dilaporkan ke Kementerian Keuangan, karena penjualnya adalah pegawai Kementerian Keuangan.

Pahala: "Sekarang kita angkut nama-nama penjual HD ke Irjen Kementerian Keuangan. Ini kan nama-nama ini pegawai siapa sih, kita menduga mereka pegawai Dirjen Pajak."

Bahwa masyarakat mencurigai pegawai Kemenkeu korupsi karena pamer hidup mewah, cuma dugaan. Tidak ada bukti. Sekarang, efek kasus Mario, terungkap dan membuat mereka yang suka pamer mewah jadi keder.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Manifesto PRD 1996: Ketika Sekelompok Anak Muda Membuat Penguasa Susah Tidur

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:27

Kanada Minta Warganya Waspadai Wabah Cyclospora sebelum Bepergian ke AS

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:16

BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:10

Ganti Kapolri dan Jaksa Agung Diusulkan Barengan

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:06

Kemnaker Jamin 134 Pegawai PT Amos Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:03

Purbaya Ungkap Alasan RI Tawarkan Pajak 0 Persen Selama 50 Tahun di PFII

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:47

KPK Sita Toyota Alphard Diduga Hadiah Proyek Bupati Lalu Ahmad Zaini

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30

Risiko Perang Terbuka AS-Iran Meningkat Gegara Rebutan Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:23

KPK Bantah Kabar Penangkapan Gatot Heroe Hernanda

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:17

Fahira Ungkap Lima Tantangan Anak Indonesia dan Solusinya

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:12

Selengkapnya