Berita

Dunia

Wartawan Senior Ungkap AS Dalang Peledakan Pipa Nord Stream

KAMIS, 09 FEBRUARI 2023 | 06:58 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Teka-teki tentang siapa dalang di balik sabotase Pipa Nord Stream September lalu diungkap jurnalis investigasi pemenang Hadiah Pulitzer, Seymour Hersh.

Lewat artikel di blog yang baru diluncurkan di platform Substack pada Rabu (8/2), reporter legendaris itu mengklaim bahwa Pipa Nord Stream dihancurkan oleh AS dalam operasi rahasia.

Mengutip sumber yang mengetahui langsung perencanaan operasional, Hersh melaporkan bahwa para penyelam Angkatan Laut AS dengan kedok latihan BALTOPS 22 NATO menanam bahan peledak di jalur pipa pada Juni 2022.


Wartawan tersebut mencatat bahwa dia telah menghubungi Gedung Putih dan CIA untuk meminta komentar terjait hal itu, tetapi keduanya membantar dengan tegas bahwa klaim tersebut adalah "benar-benar salah".

"Bom tersebut diledakkan tiga bulan kemudian pada tanggal 26 September dengan sinyal jarak jauh yang dikirim oleh pelampung sonar. Pelampung itu dijatuhkan di dekat jalur pipa Nord Stream oleh pesawat pengintai P8 Angkatan Laut Norwegia," menurut laporan Hersh.

Dikatakan bahwa proses perencanaan dimulai pada Desember 2021, ketika satuan tugas khusus dibentuk dengan partisipasi langsung dari Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan.

“Angkatan Laut mengusulkan untuk menggunakan kapal selam untuk menyerang jalur pipa secara langsung. Angkatan Udara membahas menjatuhkan bom dengan sekering  yang dapat diledakkan dari jarak jauh. CIA berpendapat bahwa apa pun yang dilakukan, itu harus dilakukan secara rahasia. Semua orang yang terlibat memahami taruhannya,"" bunyi laporan itu.

Sumber itu mengatakan kepada Hersh bahwa semua orang yang terlibat memahami bahwa operasi itu bukanlah "barang anak-anak". Itu serupa tindakan perang.

Sepanjang proses penyusunan rencana, ada pejabat tertentu yang mendesak Gedung Putih untuk membatalkan gagasan itu sepenuhnya.
“Beberapa pekerja di CIA dan Departemen Luar Negeri berkata, 'Jangan lakukan ini. Itu bodoh dan akan menjadi mimpi buruk politik jika terungkap,'” menurut sumber itu.

Awalnya, bahan peledak itu memiliki pengatur waktu 48 jam dan ditetapkan untuk ditanam pada akhir BALTOPS22, lapor Hersh mengutip sumber yang sama.

Namun Gedung Putih menilai itu dianggap terlalu dekat dengan akhir waktu latihan. Gedung Putih kemudian memerintahkan satuan tugas untuk membuat metode sesuai permintaan untuk meledakkannya.

Yang terakhir akhirnya menggunakan ide pelampung sonar.
"Pemerintahan Joe Biden berfokus untuk membahayakan jalur pipa Nord Stream. Awalnya melalui sanksi, dan pada akhirnya, dengan sabotase langsung, melihatnya sebagai kunci untuk mempengaruhi Eropa di bawah penyebabnya di tengah konflik yang membayang di Ukraina," kata Hersh.

Selama Eropa tetap bergantung pada jaringan pipa untuk gas alam murah, Washington takut negara-negara seperti Jerman menjadi enggan untuk memasok Ukraina dengan uang dan senjata yang dibutuhkan untuk mengalahkan Rusia,  tulis Hersh.

Moskow telah memberikan pandangan serupa tentang insiden tersebut tak lama setelah ledakan, mencapnya sebagai "serangan teroris" dan menyatakan bahwa AS adalah negara yang paling diuntungkan darinya, dengan mempercepat upaya Eropa untuk melepaskan diri dari gas Rusia.

Gedung Putih melalui  Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Adrienne Watson telah membantah klaim ini dan menyebutkan sebagai palsu.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya