Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Editorial

Reshuffle Bukan Alat Mengancam

SENIN, 30 JANUARI 2023 | 15:24 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

TANGGAL 1 Februari 2023 menjadi hari harap-harap cemas bagi partai koalisi pemerintah. Pasalnya, tanggal itu jatuh pada weton Rabu Pon, hari favorit bagi Presiden Joko Widodo untuk merombak kabinet atau reshuffle.

Tanda-tanda reshuffle kian nyata setelah pada Kamis (26/1) lalu, Presiden Joko Widodo memanggil Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh ke istana. Tidak sedikit pengamat yang menduga pertemuan tersebut dimanfaatkan Jokowi untuk menegaskan kembali komitmen Nasdem.

Semenjak menyatakan dukungan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan maju sebagai calon presiden, Nasdem dianggap sebagai partai koalisi yang mbalelo. Ini lantaran Anies Baswedan dianggap sebagai sosok antitesa dari Jokowi.


Adapun pergerakan partai istana lain sejauh ini sebatas menjalin koalisi untuk kendaraan Pilpres 2024. Sekalipun koalisi sudah terbentuk, bahkan ada yang membuat sekretariat bersama, partai-partai ini masih nurut pada Jokowi. Yaitu ora kesusu menentukan capres. Sementara Nasdem, justru membuka potensi untuk menjalin koalisi dengan partai luar istana. Seperti Partai Demokrat dan PKS.

Indikasi lainnya, terjadi adu mulut antara PDIP dengan Partai Nasdem tentang perombakan kabinet sejak deklarasi dukungan kepada Anies Baswedan dilakukan. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto sempat menyinggung loyalitas partai pendukung Jokowi. Kata Hasto, partai pendukung Jokowi tidak semestinya bergandengan dengan partai pengkritik. Kalimat ini seolah ditujukan kepada Nasdem yang berencana menggandeng PKS dan Demokrat.

Tidak cukup sampai di situ, Hasto juga mengaku sudah memberikan sejumlah pandangan kepada Presiden Joko Widodo sebelum melakukan perombakan. Pun demikian, dia menilai bahwa keputusan reshuffle sepenuhnya ada di tangan Jokowi.

Menjawab sindiran itu, Wakil Ketua Umum Partai Nasdem Ahmad Ali menyatakan pihaknya enggan mundur dari kabinet Jokowi. Nasdem telah berkomitmen mendukung pemerintahan Jokowi hingga 2024.

Esensi Reshuffle Berubah

Polemik seputar reshuffle seolah hanya berbicara soal bagaimana kekuasaan harus dipertahankan, bagaimana penguasa tidak digoyahkan dari kursinya. Mereka yang berseberangan harus disikat dan diganti dengan yang bisa sejalan secara politik. Wacana reshuffle bisa dimunculkan kapan saja untuk menjadi alarm mengancam para koalisi yang berulah.

Saking penuh sesaknya dengan wacana politik tersebut, publik sampai lupa dengan kerja-kerja para menteri. Tidak ada dibahas bagaimana menteri mempersiapkan pangan Indonesia agar tercukupi selama menghadapi resesi di tahun ini. Apakah strategi menteri tersebut sudah baik atau sang menteri harus diganti karena tidak bisa memberi solusi atas tantangan yang ada.

Belum lagi soal utang yang terus menumpuk. Apakah utang yang sudah tembus Rp 7.733 triliun atau mengalami kenaikan hingga Rp 6 triliun per hari sejak November 2022 ke Desember 2022, bukan masalah besar? Bagaimana cara membayarnya? Bukankah ditarik dari pungutan pajak? Artinya, subsidi rakyat akan dikurangi terus menerus dan beban pajak rakyat akan jadi lebih besar dari tahun ke tahun.

Publik harus mulai dicerdaskan. Inti dari reshuffle adalah untuk perbaikan kerja pemerintah dalam melayani rakyat. Mereka yang tidak memberi bisa bekerja dengan baik perlu dirombak dengan orang-orang yang lebih kompeten. Sebab hanya dengan begitu kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat bisa diwujudkan.

Tapi jika reshuffle hanya dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan, memperlihatkan kebencian, dan melampiaskan ego, maka yang didapat sebatas pemimpin yang terpuaskan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya