Berita

Pangeran Harry memegang senapan SLR saat berpatroli melalui kota sepi Garmisir, Afghanistan/Net

Dunia

Iran Tuding Pangeran Harry Lakukan Kejahatan Perang selama Bertugas di Afghanistan

RABU, 18 JANUARI 2023 | 09:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Iran menuding Pangeran Harry melakukan kejahatan perang setelah putera Raja Charles itu mengklaim tentang jumlah pejuang Taliban yang dia bunuh di Afghanistan.

Dalam bukunya yang berjudul "Spare" Pangeran Harry mengklaim telah membunuh 25 pejuang Taliban saat bertugas untuk Angkatan Darat Inggris di Afghanistan.

Harry mengatakan dia menganggap orang-orang yang dia bunuh sebagai "bidak catur", bukan manusia, sebuah pernyataan yang kemudian memicu protes dari para veteran Inggris dan pejabat Taliban.


Kementerian Luar Negeri Iran mengecam pernyataan Pangeran Harry lewat cuitannya di Twitter dengan mengatakan bahwa Harry nampak 'tidak menyesal'  atas pembunuhan yang ia lakukan, dan bahwa Inggris menutup mata terhadap "kejahatan perang" itu.

"Rezim Inggris, yang anggota Keluarga Kerajaannya melihat pembunuhan 25 orang tak bersalah sebagai penghilangan bidak catur dan tidak menyesali masalah ini, dan mereka yang menutup mata terhadap kejahatan perang ini, tidak dalam posisi. untuk mengkhotbahkan orang lain tentang hak asasi manusia," cuit Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip dari AP, Rabu (18/1).

Menyusul pernyataan Harry, Iran berusaha membenarkan eksekusi Alireza Akbari, pria berdarah Inggris-Iran, yang mantan pejabat senior kementerian pertahanan, yang dituduh menjadi mata-mata MI6.

Kementerian mengatakan, Inggris tidak perlu  "berkhotbah" tentang masalah hak asasi manusia sementara anak raja  mengaku membunuh 25 pejuang Taliban.
Eksekusi Akbari menandai peningkatan besar dalam ketegangan antara London dan Teheran , yang sudah memuncak karena tindakan keras terhadap protes nasional untuk hak-hak perempuan.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengecam eksekusi Akbari, dan menyebutnya sebagai "tindakan tidak berperasaan dan pengecut, yang dilakukan oleh rezim biadab".

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Sempat Kaget, Legislator Golkar Bersyukur Budi Arie Klarifikasi dan Minta Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:20

KPK Tahan Gatot Heroe Hernanda, Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:10

DPRD Siap Bongkar Oknum Parpol dan Ormas Minta Jatah Proyek SD Rembang

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:05

Netflix Umumkan Pemeran Baru One Piece Season 3, Siap Hidupkan Kisah Battle of Alabasta

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:53

Bank Berwenang Menunda Transaksi Sesuai UU TPPU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:52

Daftar 6 Perusahaan di Kalimantan Disanksi Kemenhut Buntut Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:49

Unhan Terbitkan Edaran Penggunaan Hijab bagi Kadet Putri Muslim

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:44

Diduga Terima Mobil hingga Rumah Mewah, Anggota DPRD Kota Bengkulu Diselidiki KPK

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:37

Pertamina Eco RunFest 2026, Hadirkan Tujuh Inisiatif Keberlanjutan Lingkungan

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:27

Lolly Suhenty: Kerja Kehumasan Bawaslu Menjaga Halaman Rumah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:26

Selengkapnya