Berita

Forum Ekonomi Dunia (WEF)/Net

Dunia

Berkumpul di Davos, Ekonom Dunia Yakin Resesi Global Terjadi Tahun Ini

SELASA, 17 JANUARI 2023 | 16:41 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2023 diyakini suram dengan dampak dari pandemi Covid-19, perang di Ukraina, hingga rivalitas kekuatan-kekuatan besar.

Hampir dua per tiga kepala ekonom dunia yang berkumpul di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss sepakat dengan prediksi resesi global pada tahun ini.

Sebuah laporan dari WEF yang dikutip Bernama pada Selasa (17/1) menyebut ada konsensus kuat bahwa prospek pertumbuhan ekonomi tahun ini akan suram, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat (AS).


Seluruh kepala ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Eropa akan lemah atau sangat lemah. Sementara 91 persen kepala ekonom dunia memperkirakan situasi sama terjadi di AS.

"Di China, ekspektasi pertumbuhan terpolarisasi, dengan responden hampir terbagi rata antara mereka yang mengharapkan pertumbuhan lemah atau kuat," begitu laporan WEF.

WEF juga mengharapkan langkah pelonggaran kebijakan Zero Covid dapat mendorong ke arah yang positif.

Mengenai inflasi, kepala ekonom melihat perubahan yang luar biasa di seluruh wilayah, dengan sebagian besar dari mereka memperkirakan akan terjadi inflasi tinggi pada tahun 2023. Inflasi di China diprediksi hanya 5 persen, sementara Eropa berkisar hingga 57 persen.

"Dua pertiga kepala ekonom memperkirakan resesi di seluruh dunia pada tahun 2023, ekonomi global berada dalam posisi genting," kata WEF.

Managing Director WEF, Saadia Zahidi kemudian mengimbau para pemimpin dunia untuk melihat situasi dengan serius dengan berinvestasi dalam inovasi makanan dan energi, pendidikan dan pengembangan keterampilan, serta penciptaan lapangan kerja.

"Tidak ada waktu untuk disia-siakan," tegasnya.

Pertemuan WEF di Davos tahun ini memiliki partisipasi tertinggi, yang dihadiri oleh 1.500 pemimpin bisnis, 370 tokoh masyarakat, 90 inovator, 56 menteri keuangan, 35 menteri luar negeri, 30 menteri perdagangan, dan 19 kepala bank sentral.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Purbaya Soal Pegawai Rompi Oranye: Bagus, Itu Shock Therapy !

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:16

KLH Dorong Industri AMDK Gunakan Label Emboss untuk Dukung EPR

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:05

Inflasi Jakarta 2026 Ditargetkan di Bawah Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:04

PKB Dukung Penuh Proyek Gentengisasi Prabowo

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:57

Saham Bakrie Group Melemah, Likuiditas Tinggi jadi Sorotan Investor

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:51

Klaim Pemerintah soal Ekonomi Belum Tentu Sejalan dengan Penilaian Pasar

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:50

PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso pada Depinas SOKSI

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:48

Purbaya Optimistis Peringkat Utang RI Naik jika Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:32

IHSG Melemah Tajam di Sesi I, Seluruh Sektor ke Zona Merah

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:27

Prabowo Dorong Perluasan Akses Kerja Profesional Indonesia di Australia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:16

Selengkapnya