Berita

Kebakaran hotel di Kabul, lima warga negara China terluka/Net

Dunia

Dendam, Militan Islam Tidak akan Berhenti Luncurkan Serangan pada Proyek China

SABTU, 14 JANUARI 2023 | 16:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Serangan terhadap China oleh pasukan milisi sepertinya tidak akan berhenti. Di Pakistan, serangan militan terhadap warga dan proyek China sering dilaporkan, padahal China adalah investor asing terbesar di negara itu.

Orang-orang di Pakistan telah memprotes China, menolak eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan pengaruh ekonomi dan militernya yang tumbuh.

Bisa diduga, kemungkinan ini juga akan terjadi di Afghanistan, terutama setelah   Beijing menandatangani kesepakatan ekstraksi minyak dengan Kabul baru-baru ini.


Global Strat View dalam analisisnya menuturkan kemungkinan itu. Mereka menuturkan bahwa pasukan Islam curiga karena diduga Beijing berusaha mengisi celah yang ditinggalkan oleh AS.

"Mereka tampaknya tidak senang dengan China yang mengembangkan jejaknya di negara yang dilanda perang, tercermin dalam serangan baru-baru ini terhadap warga negara China dan proyek di wilayah tersebut," tulis Global Strat View di situsnya.

Dukungan pemerintah Taliban yang berkuasa kepada China dalam eksploitasi komersial di Afghanistan yang kaya mineral tidak berjalan baik dengan kekuatan radikal ini, termasuk ISIS yang tangguh. Selain itu, tuduhan penganiayaan terhadap minoritas Muslim Uyghur menambah masalah China.

China memiliki tujuan yang jelas untuk mengeksploitasi kekayaan mineral yang sangat besar di Afghanistan. Namun niatnya untuk memperluas Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) ke Afghanistan telah menjadi isu yang memprihatinkan.

Kekhawatiran itu pernah diungkapkan ISIS-K, afiliasi regional dari kelompok Negara Islam, dalam sebuah wawancara di majalah berbahasa Inggris Voice of Khorasan pada September 2022.

Kelompok itu menyalahkan Inisiatif Jalan Sabuk (BRI) China, di mana CPEC adalah bagian darinya. Dengan BRI, China seperti menjerat negara-negara ke dalam lingkaran setan utang, lalu mengalami "gagal bayar”.

“Tiongkok mungkin menggunakan skema pinjaman semacam itu untuk melemahkan negara-negara dunia ketiga yang miskin dan meningkatkan pengaruh mereka di wilayah tersebut untuk membangun koloni neo-Tiongkok,” tulis artikel tersebut.

Selain mencurigai skema BRI, ISIS-K juga mengecam China dengan menyebut "tangannya dibasahi dengan darah Uyghur yang tidak bersalah”.

Ketakutan dan kecurigaan itu pada akhirnya menciptakan serangan di mana pasukan militan  dilaporkan telah melakukan penculikan dan pembunuhan warga China, selain membom proyek-proyek China.

Desember 2022, lima warga negara Tiongkok terluka dalam pemboman hotel di Kabul. Ini bisa jadi adalah bagian dari sentimen  sentimen anti-Tiongkok.

"Serangan terhadap warga China memiliki dampak yang terlihat," kata Global Strat View. Para pebisnis China akhirnya mempertimbangkan untuk meninggalkan negara yang dilanda perang itu.

Pengusaha Yu Minghui, misalnya. Ia mengaku tidak akan kembali ke Afghanistan, membiarkan pabrik manufaktur di Afghanistan ditinggalkan begitu saja.

"Taliban mengizinkan China di Afghanistan untuk mendapatkan pengakuan internasional. Namun, hal itu menyebabkan kemarahan terhadap China tumbuh di kalangan kelompok Muslim radikal. ISIS-K telah menjadi kekuatan anti-Tiongkok yang populer di Afghanistan karena menimbulkan kerugian dari kebijakan imperialistik Tiongkok dan penindasan brutal terhadap Muslim Uygur,"  Global Strat View.

Gerakan Islam Turkistan Timur (sekarang Partai Islam Turkistan) bisa menjadi salah satu musuh yang akan menyerang proyek China di Afghanistan sebagai balas dendam terkait Uyghur. Demikian pula, kelompok militan Baloch juga dapat menargetkan proyek China di Afghanistan untuk memprotes eksploitasi sumber daya alam, pembunuhan, dan hilangnya tanah serta mata pencaharian akibat CPEC di Balochistan Pakistan.

"China sedang mencoba merampok keuntungan di Afghanistan di latar belakang isolasi rezim Taliban oleh blok barat," papar Global Strat View.

Perkiraan nilai kekayaan mineral di Afghanistan adalah antara 1-3 triliun dolar AS. Namun, para ahli internasional meragukan angka itu.

Steve Tsang, direktur SOAS China Institute yang berbasis di London, mengatakan bahwa China mungkin masih akan terluka karena kemungkinan akan melihat serangan dari pasukan Islam, termasuk ISIS-K, TIP, dan bahkan pejuang Taliban.

“Sama seperti orang Amerika yang tidak belajar dari pelajaran Rusia dan Inggris sebelum mereka, kemungkinan besar orang China juga tidak akan belajar dari kesalahan Amerika,” katanya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Gol Dramatis Lautaro Martínez Bawa Argentina ke Final

Kamis, 16 Juli 2026 | 04:20

KPK Watch Dorong DPR Percepat Bahas RUU Perampasan Aset

Kamis, 16 Juli 2026 | 04:03

Klaster Asabri-Jiwasraya dari Suap, Gratifikasi, hingga Pencucian Uang

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:30

Pecat Jaksa Agung ST Burhanuddin!

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:08

Pemilu 2029 Inkonstitusional Jika UU Pemilu Tak Direvisi

Kamis, 16 Juli 2026 | 03:04

Gus Miftah Terima Uang Haram Rp100 Juta? Ah, Jangan Bercanda

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:40

Fahira Idris: Ancaman Bom Bukan Candaan!

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:08

Kasus Febrie Adriansyah Berpeluang Antiklimaks

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:00

Dominasi Agrinas di KDKMP Membahayakan Desa

Kamis, 16 Juli 2026 | 02:00

Kejagung Bikin Dagelan Kasus Febrie Adriansyah

Kamis, 16 Juli 2026 | 01:18

Selengkapnya