Berita

Presiden Jokowi bersama PM Malaysia, Dato' Seri Anwar Ibrahim/Net

Dahlan Iskan

Emosi Serumpun

SELASA, 10 JANUARI 2023 | 05:07 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

"INDONESIA itu sudah seperti negerinya yang kedua," ujar sahabat Disway asal Malaysia.

Saya bertanya kepadanya: bagaimana bisa Anwar Ibrahim, perdana menteri Malaysia itu, berpidato dalam bahasa Indonesia yang begitu baik. Hampir tidak terasa logat Melayu-nya.

Saya termasuk yang hadir di acara kemarin sore itu. Di auditorium Bank Mega Jakarta. Chairul Tanjung, konglomerat pemilik Bank Mega, memang mengundang Anwar untuk mampir. Anwar lagi berkunjung ke Jakarta. Bertemu Presiden Jokowi kemarin pagi.


Ke Jakarta adalah kunjungan pertama Anwar ke luar negeri setelah menjabat perdana menteri akhir November lalu. Begitulah sopan santun hubungan persahabatan antar negara. Mengutamakan sahabat sejati. Seperti juga presiden Amerika Serikat yang selalu ke Inggris dulu sebelum ke negara lain –kecuali Donald Trump.
Atau juga perdana menteri baru Jepang yang selalu harus ke Amerika dulu sebelum ke lainnya.

Indonesia adalah negara serumpun dengan Malaysia. Bisa juga dianggap sebagai saudara tua. Kata-kata serumpun itu memang tidak lagi sesering dulu diucapkan di publik.

Kemesraan antar dua negara seperti sudah berlalu. Yang lebih sering muncul justru caci-maki. Soal perbatasan, soal hak cipta budaya, soal TKI dan soal sepak bola yang hampir selalu kalah.

Kata ''serumpun'' itu sebenarnya riil. Begitu banyak orang Minang di Negeri Sembilan. Begitu mengakar orang Aceh di semenanjung. Begitu erat kekeluargaan orang Riau dan Melaka. Begitu terasa keberadaan orang Bugis di Selangor. Pun turunan Banten dan Jawa.

Dua negara ini dulunya memang satu. Bahkan tiga negara –yang satu lagi Singapura. Pulau Singapura itu, ketika masih bernama Temasek, adalah salah satu ''provinsi'' di kerajaan Riau. Yang ibu kotanya Tanjung Pinang.

Kesatuan serumpun itu pernah juga diwujudkan di  tahun 1470-an. Ketika Portugis kali pertama akan menyerang pelabuhan besar Melaka. Waktu itu semua kerajaan Nusantara sepakat: kirim armada ke Melaka. Untuk mempertahankan Selat Melaka.

Kerajaan Aceh, Riau, Palembang, Banten dan Bugis kirim armada besar-besaran ke Melaka. Kerajaan Bugis mengirim armada yang terbesar.

Tapi armada Portugis terlalu kuat. Dengan senjata meriamnya yang tergolong senjata termodern saat itu. Melaka belum punya teknologi baru itu. Melaka jebol. Portugis menjajah Nusantara.

Pasukan dari berbagai kerajaan itu tercerai berai. Masuk hutan. Jadilah mereka warga Semenanjung Melaka. Kawin-mawin. Belakangan keluarga mereka pun menyusul. Perdana Menteri Najib Razak pernah berterus terang: ia keturunan Bugis.

Usaha untuk membangkitkan hubungan serumpun itu sudah  sering dilakukan. Tapi belum ada yang terlihat nyata. TVRI pernah punya program bersama. Sudah lama pula mati.

Anwar Ibrahim termasuk yang punya semangat menghidupkan emosi serumpun seperti itu. Tapi belum ada tokoh puncak Indonesia yang punya emosi serupa. Jusuf Kalla harusnya punya. Tapi, dua kali menjadi wapres, tidak menunjukkan semangat ke sana.

Sedang teman-teman seangkatan Anwar sudah banyak yang meninggal. Atau tidak di posisi berkuasa.

Anwar sangat akrab dengan tokoh-tokoh muda Islam modernis Indonesia. Ia boleh dikata salah satu murid ideologi Kang Imad dari Bandung. Almarhum Imaduddin adalah tokoh pemikir Islam dari ITB. Anwar sering ke Jakarta dan Bandung sejak masih mahasiswa. Ia seperti dalam satu barisan dengan perjuangan angkatan muda Islam di Indonesia.

"Banyak yang mengira saya pernah sekolah di Indonesia," ujar Anwar kemarin.

"Saya tidak pernah sekolah di sini. Tapi saya punya banyak teman," tambahnya. "Cewek juga tidak punya," guraunya.

Semangat serumpun itulah yang ia tunjukkan saat bertemu Presiden Jokowi kemarin pagi. Di Istana Bogor. "Saya berbincang dengan Presiden Jokowi lama sekali. Sampai protokolnya kelihatan gelisah," ujar Anwar. Tapi mereka terus berbincang. Pak Jokowi mengabaikan isyarat itu.

Tentu banyak yang dibicarakan. Mulai dari sawit sampai TKI. Termasuk ibu kota baru Indonesia bernama Kota Nusantara.

Anwar menilai ibu kota baru itu baik bagi kawasan. Maksudnya, baik bagi Malaysia. Terutama Malaysia Timur: Sabah dan Serawak. Dari Sabah ke Nusantara itu memang akan lebih dekat dari pada dari Jakarta ke Nusantara.

Sebanyak 11 nota kesepahaman ditandatangani di depan Presiden Jokowi dan PM Anwar Ibrahim. Malaysia, diwakili 11 perusahaan itu, berminat ikut membangun Nusantara.
Kedua pemimpin juga sepakat untuk menghadapi boikot sawit dari Uni Eropa. Indonesia dan Malaysia adalah negara nomor 1 dan nomor 2 penghasil sawit terbesar dunia.

Sebelum bertemu Presiden Jokowi, Minggu malam, Anwar Ibrahim makan malam bersama warga Malaysia yang ada di Jakarta.

Di situ Anwar menegaskan: akan memberantas korupsi secara all out, sampai pun jabatan taruhannya. "Banyak orang Malaysia yang sudah frustrasi menghadapi korupsi ini," ujarnya.

"Banyak pemimpin yang mengaku membela Islam tapi tidak mencerminkan prinsip Islam dalam hal  korupsi," tambahnya.

Anwar mengaku telah membaca buku karya Muchtar Lubis soal korupsi yang sudah jadi budaya. Ia juga membaca buku penyair Taufiq Ismail soal korupsi berjudul Malu Jadi Orang Indonesia.

Indonesia dan Malaysia jangan-jangan juga serumpun dalam hal korupsinya.

Rasanya Jokowi di Indonesia dan Anwar di Malaysia banyak yang bisa disepakati. Dengan atau tanpa emosi serumpun.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya