Berita

Komisi Pemilihan Umum (KPU)/Net

Publika

Audit KPU, Tunda Pemilu dan Gejolak Sosial Politik

OLEH: SURYA FERMANA*
KAMIS, 29 DESEMBER 2022 | 01:57 WIB

Hiruk pikuk riuh rendah pemilu akhir-akhir ini memunculkan dua tegangan kuat antara lanjut pemilu dengan kondisi delegitimasi terhadap KPU sebagai penyelenggara pemilu berhadapan dengan tunda pemilu lanjutkan masa jabatan presiden.

Memang proses pemilu telah berjalan pada tahap pemberian nomor partai peserta pemilu namun dalam proses pendaftaran, verifikasi administrasi dan faktual peserta pemilu memunculkan polemik yang dapat berujung pada gejolak sosial politik secara nasional yang ujungnya tak terprediksi.           

Dugaan rekayasa administrasi meloloskan/tidak meloloskan parpol tertentu, begitu juga dalam tahap faktual dan kemudian ada isu affair antara Ketum partai calon peserta pemilu dengan ketua KPU hingga muncul isu bahwa hasil pilpres telah disetting untuk memenangkan pasangan calon tertentu.


Di sisi yg lain bila pemilu tertunda ada kekhawatiran dari sebagian tokoh akan dimanfaatkan untuk perpanjangan masa jabatan presiden yang juga sebelumnya banyak mendapat dukungan dari tokoh politik nasional. Situasi tersebut seperti buah "simalakama".

Take or leave akan sama tidak baiknya. Publik sesak oleh kecemasan dan ketidakpastian di tengah bauran pekat informasi benar dan informasi sesat. Sebenarnya bisa saja jernih bila tidak dalam keadaan panik akut terhadap penundaan pemilu yang berujung pada perpanjangan masa jabatan Presiden dengan cara menghentikan sementara proses pemilu kemudian dilakukan audit terhadap lembaga dan perorangan KPU baik itu kinerja, IT dan moral mereka.

Setelah diaudit bila tidak ditemukan masalah yang substansial langsung lanjut tapi bila ditemukan masalah maka dilakukan pembersihan terhadap komisioner/kesekretariatan KPU yang terlibat kesalahan kemudian anulir keputusan yang pernah mereka buat untuk dilakukan penataan ulang.

Dengan begitu pemilu bisa lanjut dengan Jurdil dan terpercaya tanpa harus memperpanjang masa jabatan presiden toh pemilu 2024 itu dimajukan 2  bulan waktunya dr pemilu sebelumnya yg dilakukan pada bulan April. Namun dalam tulisan Ini juga akan menyoroti kegentingan lain akibat dari persoalan proses pemilu yaitu masalah ancaman nasional dari proses pemilu yang  harus diungkap yaitu bocornya rekaman-rekaman percakapan penyelenggara Pemilu. Muncul pertanyaan yang harus segera dijawab  apakah itu direkam atau disadap? Apabila disadap maka kemungkinan ada dua, yaitu:  Bisa dari perpecahan pemegang alat sadap dalam negeri karena perbedaan kepentingan politik  atau ada permainan. Intelijen asing. Itu semua harus segera dilakukan investigasi oleh presiden dan dorongan dari semua pihak  karena itu  bukan hanya menyangkut pemilu tapi juga keamanan nasional. 

Kita tak dapat menapikan bila ada intervensi asing yang mau memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dengan memicu gejolak sosial politik.  Bilapun itu dilakukan dari aktor dalam negeri juga akan memicu gejolak sosial politik. Jadi, Audit KPU dan Investigasi bocoran percakapan-percakapan orang-orang KPU adalah syarat bagi pemilu damai jujur adil dan terpercaya.

*Penulis merupakan pemerhati sosial politik                                               

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Efisiensi Perjalanan Dinas: Luar Negeri 70 Persen, Dalam Negeri 50 Persen

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:18

MPR Minta Pemerintah Tarik Pasukan TNI dari Misi UNIFIL

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:11

Imparsial: Andrie Yunus Buka Sinyal Gelap Pembela HAM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:05

Tanpa Terminal BBM OTM, Cadangan Pertamax Berkurang Tiga Hari

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:53

Kemenkop–KemenPPPA Kolaborasi Perkuat Peran Perempuan Lewat Kopdes

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:45

Lippo Cikarang Tegaskan Tidak Terkait Perkara yang Diusut KPK

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:35

Membaca Skenario Merancang Operasi Gagal

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:28

BSA Logistics Melantai di Bursa Bidik Dana Rp306 Miliar

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:18

Jusuf Kalla Bereaksi atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:01

Diaspora RI Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Seoul

Selasa, 31 Maret 2026 | 20:56

Selengkapnya