Berita

Komisioner KPU RI, Parsadaan Harahap dan Pengamat Politik, Yusfitriadi/RMOLJabar

Politik

Polarisasi Bisa Kembali Terjadi pada Pemilu 2024, Ini Sejumlah Indikasinya

MINGGU, 25 DESEMBER 2022 | 04:54 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Polarisasi yang terjadi pada Pemilu 2019, tampaknya bakal terulang kembali pada Pemilu 2024 mendatang. Pasalnya, politik identitas sudah mulai terlihat dilakukan oleh aktor-aktor politik demi mencapai kekuasaan.

Pengamat politik nasional, Yusfitriadi mencontohkan, Anies Baswedan sebagai calon presiden yang diusung oleh Partai Nasdem yang memanggungkan sejumlah tokoh nasional atau tokoh politik lainnya, baginya itu sudah masuk ke dalam politik indentitas.

Kemudian, sambung Yusfitriadi, aktor-aktor politik menyebut Anies sebagai antitesa dari Joko Widodo (Jokowi), di mana menurutnya itu bagian dari politik yang mendelegasikan orang.


"Jadi ketika Jokowi nasionalis, maka mereka itu identitasnya dan banyak hal yang mendelegasikan ke sana. Nah itu baru Anies, belum lagi yang lain, seperti yang beruban itu, begitulah kira-kira dan ini sudah terlihat," papar Yusfitriadi kepada Kantor Berita RMOLJabar, di Cibinong Kabupaten Bogor, Sabtu (24/12).

Dia menambahkan, pemilu di Indonesia itu kebanyakan para pemilihnya sangat kuat dengan prinsip-prinsip identitas, kesukuan, keagamaan, kemudian keberpihakan terhadap budayanya. Sehingga, dengan kondisi itulah banyak dimanfaatkan oleh aktor-aktor politik untuk mencapai kekuasaan.

"Padahal itu memberikan spirit pembodohan terhadap pemilu. Kemudian, sekarang banyak urusan pilpres Jawa, maupun non-Jawa dan ini sudah tidak menarik," ujarnya.

Selain politik identitas, lanjut Yusfitriadi, polarisasi yang akan muncul pada 2024 itu ada 4 poin. Yaitu pertama, integritas dan profesionalitas. Kemudian yang kedua yaitu adanya dominasi kekuasaan di tubuh orientasi partai politik. Ketiga politik transaksional, kampanye hitam, kampanye negatif.

Dan terakhir, transformasi digital yang mengganggu dan memberikan kontribusi yang negatif terhadap pemanfaatan di pemilu.

"Nah dalam konteks polarisasi yang mengarah kepada politik identitas, yang mengarah kepada politik transaksional itu saya pikir akan kembali dihadapkan seperti pemilu 2019," terangnya.

Masih kata Yusfitriadi, kemunculan politik identitas itu sering terjadi pada Pemilihan Presiden (Pilpres). Apalagi, pasangan calonnya head to head atau hanya dua pasangan calon di Pilpres.

"Saya pikir cukup rasional karena identitas itulah yang paling renyah digoreng untuk kepentingan kekuasaan," katanya.

Melihat adanya potensi polarisasi pada Pemilu 2024, Yusfitriadi pun menyarankan kepada penyelenggara pemilu, peserta pemilu, dan pemerintah untuk melakukan pencegahan dengan menggandeng semua stakeholder.

Menanggapi itu, Komisioner KPU RI, Parsadaan Harahap, mengakui potensi polarisasi di Pemilu 2024 pasti ada. Tetapi, pihaknya akan melakukan pencegahan-pencegahan dengan berkerja sama untuk melakukan dan mengintensifkan sosialisasi, agar potensi-potensi pelanggaran tidak terjadi.

"Tentunya ini menjadi bagian dari kawan-kawan kita di pengawasan untuk melakukan pencegahan terhadap pelanggaran-pelanggaran pemilu, agar tidak terjadi dan tidak boleh dilakukan," kata Parsadaan Harahap saat menghadiri Harlah Vinus di Bogor.

Selain itu, KPU juga sudah berkoordinasi dengan Bawaslu untuk mencarikan rumusan-rumusan terbaik, dengan tujuan agar hal-hal tersebut tidak terulang kembali.

"Kita mengetahui politik identitas itu bisa memecah belah masyarakat, dan pencegahan itu masih kita lakukan bersama berbagai pihak, terlebih dengan Bawaslu," tutupnya.

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

UPDATE

Nyepi di Tengah Ramadan Perkuat Persaudaraan Lintas Iman

Kamis, 19 Maret 2026 | 10:01

Bedah Trailer 'Spider-Man: Brand New Day', Mengungkap Daftar Pemain dan Kandidat Musuh Utama

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:49

Volume Kendaraan Tol Trans Jawa Naik Signifikan

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:47

Kepadatan Tol Jakarta-Cikampek Berlanjut hingga Pagi

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:20

TNI Disarankan Ambil Alih Penanganan Kasus Andrie Yunus dari Kepolisian

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:14

Inspirasi Ucapan Hari Raya Nyepi 2026 yang Penuh Kedamaian

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:12

Dokter Tifa Bantah Rumor Temui Jokowi

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:47

Dampak Perang Iran, Bank Sentral UEA Gelontorkan Paket Penopang Likuiditas

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:46

Dugaan Perintah Atasan di Balik Teror Aktivis Harus Diungkap

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:25

Mudik Lebaran Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:08

Selengkapnya