Berita

Penjaga Pantai Filipina/Net

Dunia

China Klaim Lebih Banyak Wilayah Kepulauan Spratly, Filipina Tingkatkan Kehadiran Militer

KAMIS, 22 DESEMBER 2022 | 15:48 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Filipina memerintahkan untuk meningkatkan kehadiran militer mereka di Laut China Selatan seiring dengan meningkatnya ancaman China di wilayah yang disengketakan.

Departemen Pertahanan Filipina pada Kamis (23/12) menyoroti laporan media dua hari lalu yang menyebut China telah mengklaim lebih banyak wilayah di Kepulauan Spratly.

"Setiap perambahan di Laut Filipina Barat atau reklamasi fitur di dalamnya merupakan ancaman bagi keamanan Pulau Pagasa," kata departemen, seperti dikutip AFP.


Manila menyebut perairan tepat di sebelah barat Filipina sebagai Laut Filipina Barat, sedangkan Pulau Pagasa, yang terbesar kedua di Spratly, juga dikenal sebagai Pulau Thitu.

Departemen Pertahanan mengatakan telah mengarahkan angkatan bersenjata untuk memperkuat kehadiran negara di Laut Filipina Barat, menyusul aktivitas China yang dipantau di dekat Pulau Pagasa.

Namun mereka tidak merinci aktivitas apa yang dilakukan oleh China tersebut.

Beijing mengklaim hampir semua Laut China Selatan yang kaya sumber daya, yang dilalui perdagangan triliunan dolar setiap tahunnya. Penggugat saingannya adalah Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan.

China telah mengabaikan putusan tahun 2012 dari pengadilan yang didukung PBB bahwa klaimnya tidak berdasar.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah membangun pulau buatan di atas terumbu sambil membangun fasilitas militer dan lapangan terbang.

Bloomberg melaporkan Selasa, mengutip gambar satelit dari pejabat AS, bahwa formasi daratan baru telah muncul di Spratly, di Eldad Reef, Whitsun Reef, Lankiam Cay dan Sandy Cay.

Sandy Cay terletak tujuh kilometer di sebelah barat Thitu, memiliki landasan udara bersama dengan detasemen militer dan penjaga pantai. Komunitas sipil kecil juga tinggal di sana.

Lankiam Cay berjarak sekitar 45 kilometer tenggara Thitu, sedangkan dua terumbu lainnya lebih jauh.

Filipina telah berulang kali menuduh penjaga pantai dan milisi maritim China melecehkan dan menyerang kapal penangkap ikan dan kapal lain di wilayah tersebut.

Pekan lalu, Manila mengajukan protes diplomatik setelah kapal penjaga pantai China pada November mengambil alih puing-puing dari roket China yang diambil oleh kapal angkatan laut Filipina di lepas pantai Thitu.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

Setahun BPI Danantara Berdiri Justru Tambah Masalah

Rabu, 04 Maret 2026 | 00:07

Jangan Giring Struktural Polri ke Ranah Politik Praktis

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:53

2 Kapal Tanker Pertamina dan Awaknya di Selat Hormuz Dipastikan Aman

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:35

KPK Amankan BBE dan Mobil dari OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:30

Mutasi AKBP Didik ke Yanma untuk Administrasi Pemecatan

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:09

SiCepat Ekspansi ke Segmen B2B, Retail, hingga Internasional

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:07

GoTo Naikkan BHR Ojol, Cair Mulai Besok!

Selasa, 03 Maret 2026 | 23:01

Senator Dayat El: Pembangunan Indonesia Tak Boleh Tinggalkan Desa

Selasa, 03 Maret 2026 | 22:46

Kenapa Harus Ayatollah Khamenei?

Selasa, 03 Maret 2026 | 22:38

Naik Bus Pariwisata, 11 Orang Terjaring OTT Pekalongan Tiba di KPK

Selasa, 03 Maret 2026 | 22:13

Selengkapnya