Berita

Pengamat politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga/Net

Politik

Kalau Cuma Unggul di Kalangan Berpendidikan, Anies Justru Harus Waswas

RABU, 07 DESEMBER 2022 | 17:18 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Hasil Survei Voxpol Center Research and Consulting pada November 2022 menunjukkan Anies Baswedan unggul di kalangan berpendidikan tinggi (42,2 persen), disusul Ganjar Pranowo (31,8 persen), dan Prabowo Subianto (18,8 persen). Namun, itu belum bisa jadi jaminan bagi Anies untuk meraih banyak suara pada Pemilu 2024.

Pengamat politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga berpendapat, bagi sebagian orang, unggul di kalangan pendidikan tinggi tentu membanggakan lantaran mereka merupakan pemilih yang rasional.

"Mereka ini memilih Anies atas dasar pertimbangan komprehensif. Setidaknya mereka melihat kelayakan Anies menjadi capres sebagai  pertimbangan utama,” kata Jamiluddin lewat keterangan tertulisnya, Rabu (7/12).


Namun demikian, lanjut Jamiluddin, belum ada capres di Indonesia yang terpilih karena unggul di kalangan berpendidikan tinggi. Prabowo misalnya, selalu dominan dipilih oleh kalangan terdidik pada Pilpres 2014 dan 2019.

"Nyatanya Prabowo kalah dari Joko Widodo (Jokowi). Jokowi yang dominan dipilih pemilih tidak terdidik justru dua kali mengalahkan Prabowo. Hal itu logis karena mayoritas pemilih di Indonesia memang berpendidikan menengah ke bawah,” tuturnya.

"Jadi, kalau unggul di kalangan berpendidikan tinggi, Anies justru harus waswas. Sebab, peluang kalah akan sangat besar,” imbuhnya.

Oleh karena itu, saran Jamiluddin, Anies harus juga mengarahkan perhatiannya kepada pemilih dari segmen pendidikan menengah ke bawah. Tentu saja strategi dan pendekatan kepada segmen ini akan berbeda dengan yang berpendidikan tinggi.

"Tentu mengalihkan fokus kepada segmen pendidikan menengah ke bawah perlu segera dilakukan. Kalau Anies mampu mengambil sebagian dari segmen tersebut, barulah Anies berpeluang besar menang pada Pilpres 2024,” tutupnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya