Berita

Taprof Bidang Ideologi dan Sosbud, AM Putut Prabantoro yang hadir mewakili Gubernur Lemhannas RI Andi Widjajanto bersama para calon pendeta Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Lawang, Jawa Timur/Ist

Nusantara

Kaum Muda GPIB Diminta Terus Suarakan Perdamaian

SELASA, 08 NOVEMBER 2022 | 21:01 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Sudah saatnya kaum muda Indonesia menyuarakan perdamaian secara bersama-sama karena merupakan amanat Pembukaan UUD 1945.

Kaum muda harus bekerja sama dengan siapa saja untuk menghadirkan perdamaian tersebut di dunia nyata serta menyerukan agar perang antara Ukraina dan Rusia berakhir.  Seruan perdamaian itu harus dilakukan terus menerus tanpa kenal Lelah oleh para pemuka agama.

Demikian ditegaskan Taprof Bidang Ideologi dan Sosbud, AM Putut Prabantoro yang hadir mewakili Gubernur Lemhannas RI Andi Widjajanto kepada para calon pendeta Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Lawang, Jawa Timur, awal pekan ini.


Sebelumnya sebanyak 66 calon pendeta (Vikaris) GPIB selama 7 (tujuh) hari menjalani pendidikan bela negara di Rindam V Brawijaya.

Dalam konteks perwujudan perdamaian, Putut menguraikan bahwa, Presiden Joko Widodo baru saja menerima penghargaan perdamaian internasional Imam Hasan Bin Ali Tahun 2022 yang diserahkan oleh Sekretaris Jenderal Forum Perdamaian Abu Dhabi Cheikhna Abdallah AlSheikh AlMahfodh Bin Bayah di Istana Merdeka, Jakarta.  

“Bangsa Indonesia memang harus menyuarakan perdamaian karena diamanatkan oleh UUD 1945 yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” kata Putut dalam keterangan tertulis, Selasa (8/11).

Putut menambahkan bahwa pemuka agama tidak hanya mendorong terwujudnya perdamaian, tetapi juga harus mencerdaskan dan sekaligus menyejahterakan para jemaatnya.

Covid-19 merupakan contoh riil dari persoalan dunia yang tiba-tiba datang ke dunia. Dampak dari Covid-19 juga dihadapi institusi keagamaan dan para pemuka agama harus menjelaskan dengan benar tentang Covid-19 ini. Dunia dan tak luput juga Indonesia akan melewati masa-masa kritis pada tahun-tahun mendatang ini.

“Kalian harus siap menghadapi dunia yang penuh dinamika tantangan. Sebagai pemuka agama, kelak kalian dihadapkan pada begitu banyak ancaman yang terlihat dan tidak terlihat. Ancaman bukan hanya soal senjata tetapi juga soal media sosial yang menyebarkan hoax. Hoax dengan sengaja disebarkan dan bertujuan untuk menghancurkan persatuan Indonesia. Oleh karena itu, sebagai calon pemimpin, sebelum mencerdaskan umat, harus mencerdaskan diri terlebih dulu, membekali diri secara bijak, mengetahui kondisi jemaat dan masyarakat sosial. Selain cerdas dan bijak, para pemuka agama harus cerdik dalam menyiasati begitu banyak ancaman dan tantangan yang sangat nyata,” beber Putut Prabantoro.

Ditekankan juga, keberagaman merupakan modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa besar. Sejak lahir, apa yang diterima oleh seorang bayi baik orang tua, suku, saudara maupun tempat kelahiran merupakan talenta atau modal yang harus diterima sebagai anugerah untuk hidup di masa datang. Talenta itu harus dikembangkan sebagaimana yang ditulis dalam kitab suci.

Hal yang sama ketika kita bicara soal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah anugerah Tuhan kepada bangsa Indonesia. Keberagaman harus dijadikan kekuatan dan bukan sebaliknya menjadi kelemahan. Persatuan Indonesia yang merupakan center gravity (titik berat) harus dijaga dan dipelihara karena merupakan inti kekuatan dari Pancasila.

Sementara itu, pendeta Dina Meijer�"Hallatu menjelaskan bahwa Indonesia masa kini dan masa depan merupakan realitas Bersama. Dan perang sudah tidak lagi konvensional seperti dulu.

Namun yang jelas, perang dalam bentuk apapun dari dulu hingga kini telah berdampak bagi kemanusiaan dan alam semesta. Bahkan perang pada masa kini telah berubah menjadi perang dalam bentuk multi dimensional yang menyangkut ekonomi dunia, transportasi, industri senjata dan energi.

“Yang berperang dua pihak tetapi yang menjadi korban adalah dunia. Kondisi tersebut bermuara pada satu tugas panggilan bersama yaitu mengupayakan perdamaian sekecil atau sesederhana apapun bentuknya. Para pemimpin muda harus dibekali dengan pengetahuan dan juga kepekaan agar memiliki tanggungjawab agar karunia Tuhan dalam hidup ini terjaga, terawat dan mengalami perkembangan yang signifikan. Semuanya hanya untuk kemuliaan Tuhan dan kehidupan yang berkelanjutan,“ tegasnya.



Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya