Berita

Pengamat intelijen, pertahanan dan keamanan, Ngasiman Djoyonegoro/RMOL

Pertahanan

Ngasiman Djoyonegoro: Indo Defence 2022 Perkuat Arah Revolusi Militer Indonesia

JUMAT, 04 NOVEMBER 2022 | 19:43 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Gelaran Indo Defence 2022 yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dinilai strategis konteks diplomasi militer dan ekonomi nasional. Setidaknya ada 905 perusahaan dari 158 perusahaan dalam negeri dan 747 perusahaan luar negeri mengikuti pameran Alutsista.

Tahun ini di 59 negara hadir sebagai peserta pameran alutsista ini dan 31 negara hadir sebagai delegasi. Selain itu, Menteri pertahanan, wakil menteri pertahanan, dan panglima-panglima pasukan pertahanan dari luar negeri adalah sebanyak 21 pejabat.

Pengamat intelijen, pertahanan dan keamanan, Ngasiman Djoyonegoro mengatakan Indo Defence 2022 juga menunjukkan komitmen terhadap implementasi Revolution in Military Affairs.


Pria yang karib disapa Simon ini mengatakan, Indonesia cukup menonjol di kawasan Asia Tenggara dalam pengembangan industri militernya.

"Indo Defence Expo dapat dimaknai sebagai gelaran militer non pasukan, sejauh mana kekuatan persenjataan kita dalam menghadapi perang,” demikia kata Simon kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (4/11).

Menurut Simon, diplomasi militer bagi Indonesia saat ini sangatlah penting. Apalagi, baru-baru ini, ketegangan antara China versus Taiwan- Amerika Serikat memperlihatkan unjuk kekuatan militer oleh China.

Contoh lain, antara Korea Utara versus Korea Selatan-Amerika Serikat-Jepang juga sempat saling balas serangan militer. Bukan hanya itu, analisa Simon, intensitas koalisi militer AUKUS terjadi di kawasan Asia Pasifik.

"Situasi ini cukup memberikan konteks yang kuat bagi Kementerian Pertahanan dan TNI untuk juga gelar kekuatan, salah satunya melalui Indo Defence 2022," jelas Simon.

Pandangan Simon, industri pertahanan Indonesia berkembang cukup pesat semenjak disahkannya UU 162012 tentang Industri Pertahanan. Sebab, sejak 2015 sampai tahun2018, pemerintah telah menetapkan 70 industri pertahanan baru. Detailnya, mengacu data Bappenas, total industri pertahanan yang ada sekarang sebanyak 102 perusahaan yang teregistrasi di Kementerian Pertahanan, baik BUMN mapun swasta.

Dalam pandangan Simon, keberadaan industri pertahanan ini secara makro juga berkontribusi terhadap ekonomi nasional.

“Setidaknya lapangan kerja baru tercipta dari industri pertahanan, ini akan semakin menguat jika pemerintah juga mengembangkan industri rantai pasok untuk alutsista yang diproduksi oleh perusahaan industri pertahanan dalam negeri,” kata Simon.

Simon melihat kontribusi positif industri pertahanan, umlah karyawan tetap lima industri pertahanan yang tergabung dalam Defend ID diperkirakan sekitar 10.000 orang.

Beberapa industri itu seperti PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad telah menyerap lebih banyak tenaga kerja daripada firma lainnya di dalam holding.

Di sisi lain, ungkap Simon jumlah karyawan nonpermanen di BUMN industri pertahanan bervariasi dan tergantung pada kondisi bisnis masing-masing perseroan.

Namun demikian, Simon mengingatkan pemerintah untuk tetap memperhatikan tiga hal: pertama, terkait penguasaan teknologi militer yang perlu ditingkatkan. Kedua, penguatan rantai pasok industri pertahanan yang melibatkan UMKM sehingga dampak ekonominya bisa lebih meluas. Ketiga, melindungi industri pertahanan secara hukum, utamanya terkait hak paten teknologi.

“Penguatan industri pertahanan haruslah seimbang antara pemenuhan kebutuhan alustsista yang canggih, politik diplomasi, dan ekonomi kerakyatan,” kata Simon.

Lebih lanjut Simon berharap bahwa Indo Defence 2022 semakin memperteguh kebijakan Revolution in Military Affairs yang telah dimulai sejak Reformasi.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

Klaim Bahlil soal Energi Aman Patut Dipertanyakan

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:10

Kabut Perang Selimuti Wall Street, Nasdaq Jatuh Paling Dalam

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:09

Trump Perpanjang Jeda Serangan ke Iran

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:02

Tanpa Perencanaan, Pendatang Baru Berpotensi Jadi Beban

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:01

OJK Prediksi Sejumlah Bank Besar akan Naik Kelas ke KBMI IV pada 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:45

Harga Emas Anjlok Tertekan Dolar AS dan Proyeksi Suku Bunga Tinggi

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:34

Bursa Eropa Tumbang, Indeks STOXX 600 Dekati Fase Koreksi

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:21

Pertama dalam Sejarah, Tanda Tangan Presiden Donald Trump akan Dicetak di Dolar AS

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:07

Ekonomi Indonesia: Makro Sehat, Mikro Sekarat

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:35

Bekas Kepala KSOP Belawan Jadi Tersangka Skandal PNBP

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:24

Selengkapnya