Berita

Bacapres Partai Nasdem, Anies Baswedan/RMOL

Publika

Meng-Anies-kan Indonesia

OLEH: ALEX WIBISONO*
RABU, 02 NOVEMBER 2022 | 16:27 WIB

SAAT ini, belum masanya kampanye. Lu betul. Tapi kagak ada aturan yang larang untuk berkampanye. Kagak ada pasal yang mengutuk kampanye.

Sebanyak 164 simpul relawan Anies hari ini hadiri pidato kebangsaan Anies di Jakarta Convention Center (JCC). Kalau satu simpul saja bisa datangkan 1.000 relawan, maka sudah 164.000 relawan yang akan hadir. Membludak, dan jalanan bisa macet. JCC pasti kagak muat. Kabarnya, setiap simpul hanya boleh kirimkan utusannya 2-3 orang. Biar tertampung semuanya di JCC.

Kalau ini dibilang kampanye, emang bener banget. Kalau dibilang curi start, itu juga bener. Kagak ada yang salah. Tapi, kagak boleh ada yang protes. Karena kagak ada aturan yang melarang.


Ada yang pasang baliho dimana-mana, itu juga kampanye bro. Kagak ada yang protes juga. Ada kepala daerah yang hari-hari kelayapan ke daerah dan tempat lain, itu juga kampanye. Kagak urus daerahnya yang kabarnya paling miskin dan melarat, malah sibuk kampanye. Itu juga kagak ada yang ngelarang.

Terus, kalau para relawan Anies bergerak untuk kampanye lu bilang bikin gaduh? Lu waras?

Mesin relawan Anies kelihatan sudah panas. Makin lama, makin kencang larinya. Di mana-mana, terus ada deklarasi Anies. Di mana-mana, terus ada spanduk Anies bertebaran. Di mana-mana, gaung Anies semakin lantang. Karena memang, ini sudah tiba waktunya.

Santai aja bro. Kagak usah panik. Anies memang diuntungkan dengan waktu longgarnya. Sekarang he has free time. Bebas waktu. Banyak luang. Ini kesempatan Anies silaturahmi. Anies bisa sowan ke semua tokoh dan keliling daerah.

Hari ini di Jakarta, besok di Medan, besok lagi di Makassar, terus lanjut Jawa Tengah, kemudian ke Lampung, dan terus keliling pelosok Indonesia. Anies leluasa bergerak dengan 164 simpul relawan yang terus bertambah jumlahnya.

Kagak ada aturan yang dilanggar. Kagak ada etika yang ditabrak. Semua dilakukan sesuai hulum dan adat istiadat yang berlaku. Sangat elegan. Ini cara terhormat, tapi sangat efektif.

Jika hari ini para menteri bekerja, karena mereka diberi amanah dan dibiayai oleh rakyat. Sambil mereka kampanye, sah dan boleh-boleh saja. Biarlah para kepala daerah bekerja sambil kampanye, itu juga biasa aja.

Sedangkan Anies, kagak ada ikatan kerja. Full waktunya buat kampanye. Pakai biaya sendiri. Mandiri, dan tidak ada uang e-KTP atau bansos yang dipakai. Clear. Ini juga sah, normal dan wajar.

Kagak lama lagi, elektabilitas Anies akan melejit. Hampir pasti. Ini karena Anies punya banyak waktu luang untuk intens bersilaturahmi dan berdiskusi dengan rakyat di bawah. Dengan para tokoh, agamawan termasuk para ulama, penderma juga orang-orang waras di kampus.

Anies bisa beberkan problem dan tantangan bangsa saat ini dan kedepan. Riil, ada faktanya dan bisa dirasakan oleh semua rakyat Indonesia. Inilah masalah yang sesungguhnya, sebuah tantangan bangsa hari ini dan masa depan.

Anies akan ajak dialog, libatkan para tokoh secara persuasif dan personal untuk berdiskusi. Kemudian Anies akan menyampaikan gagasannya bagaimana mengatasi problem itu. Detail, masuk akal, bisa dimengerti dan mudah diterima.

Mengapa setiap tokoh ketemu Anies bisa langsung berubah? Benci jadi mendukung? Karena mereka pada akhirnya tahu bahwa Anies paham masalah bangsa, bisa menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti rakyat, dan punya solusi bagaimana tahapan demi tahapan untuk menyelesaikannya. Semua masuk di akal. Pada akhirnya, banyak yang sadar ternyata selama ini yang beredar di masyarakat dan sampai telinga mereka adalah fitnah tentang Anies.

Kalau semua tokoh, agamawan, termasuk para ulama dan pendeta, ketua omas didatangi Anies satu persatu dan diajak dialog dari hati ke hati, dengan kejujuran, kerendahan hati dan bisa objektif serta apa adanya, pasti semua bentuk curiga, kekhawatiran, bahkan lebencian akibat provokasi dan fitnah akan lambat laun menghilang.

Fitnah semasif apapun akan luntur. Duit sogokan sebesar apapun kagak akan mempan. Karena ini sudah menyentuh soal nasib bangsa kedepan. Soal nasib anak cucu di masa yang akan datang. Nasib NKRI, nasib petani, nasib pendidikan, nasib kedaulatan negara, dll.

Lu kagak usah protes soal kualitas kampanye Anies. Anies lebih tahu persoalan yang dihadapi oleh bangsa inu. Anies tahu persoalan dan tantangan apa aja yang harus dirembug dengan rakyat terkait nasib bangsa di masa yang akan datang.

Anies datang tidak bawa uang. Tapi Anies datang untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya dihadapi oleh bangsa ini dengan semua tantangannya di masa depan,.

Anies punya gagasan bagaimana bangsa ini secara bersama-sama berkolaborasi untuk meresponnya. Bagaimana bangsa ini memanfaatkan kekuatan yang ada untuk membangun dan bisa tampil sebagai bangsa yang maju di masa yang akan datang.

Siapa yang kagak terhipnotis dengan penjabaran Anies soal bangsa. Begitu ia menguasainya dan bisa memberi harapan. Tidak hanya harapan, karena Anies telah membuktikannya di Jakarta.

Jakarta itu miniatur Indonesia. Rekam jejak Anies dengan semua perubahan di ibu kota membuat orang yakin bahwa Anies memang punya kemampuan.

Dari sini, wajar kalau dukungan rerhadap Anies terus bertambah besar. Setiap pekan ada tokoh baru yang muncul dan memberi dukungan secara terang-terangan terhadap Anies. Muncul ulama dan pendeta yang deklarasi dan medukung Anies. Jumlah simpul relawan Anies pun dari pekan ke pekan semakin membesar.

Membesarnya gelombang dukungan terhadap Anies membuat sejumlah pengusaha bersikap rasional, lalu merapat. Begitu juga teknokrat dan kelompok elit yang berkarir di dunia birokrasi, secara silent telah banyak yang merapat.

Pihak-pihak yang ada di struktural pemerintahan sedang bergerak untuk mendukung Anies. Mereka berfikir terhadap masa depan karirnya.

Dibandingkan dengan para kandidat lain, peluang dan kesempatan Anies untuk menang dan jadi presiden RI kedelapan jauh lebih besar.

Bravo Anies. Takdir nampaknya sedang berpihak dan memberi amanah negeri ini kepadamu.

*Penulis adalah pemerhati sosial politik

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya