Berita

Kapal kargo berbendera Sierra Leone Razoni, membawa gandum Ukraina, terlihat di Laut Hitam di lepas pantai Kilyos, dekat Istanbul, Turki, 3 Agustus lalu/Net

Dunia

Kapal Perangnya Diserang di Sevastopol, Rusia Tangguhkan Kesepakatan Pengiriman Gandum Ukraina

MINGGU, 30 OKTOBER 2022 | 08:39 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pasokan pangan dunia kembali terancam setelah Rusia memutuskan untuk menghentikan sementara partisipasinya dalam kesepakatan izin pengiriman biji-bijian Ukraina ke negara-negara miskin hingga waktu yang belum ditentukan.

Keputusan tersebut diambil Kremlin lantaran kapal perang laut Hitamnya di Sevastopol diserang pesawat tak berawak yang diduga berasal dari kelompok teroris Ukraina pada Sabtu dini hari (28/10).

"Mempertimbangkan tindakan teroris oleh rezim Kyiv dengan partisipasi ahli Inggris terhadap kapal perang Laut Hitam dan kapal sipil yang terlibat dalam memastikan keamanan 'koridor gandum', pihak Rusia menangguhkan partisipasi dalam  implementasi perjanjian ekspor produk pertanian dari pelabuhan Ukraina," ungkap laporan kementerian.  


Menanggapi hal tersebut, pihak Ukraina membantah dan balik menuduh Rusia tengah membuat propaganda dengan menyebarkan ketakutan tak beralasan setelah ledakan di jembatan Krimea.

"Rusia memeras dan menciptakan serangan teror di wilayahnya sendiri pada hari Sabtu (28/10) menyusul ledakan di semenanjung Krimea pada hari Sabtu (8/10) juga," tegas Kepala Staf Presiden Ukraina, Andriy Yermak.

Dimuat Reuters, sejak Rusia dan Ukraina menandatangani Black Sea Grain Initiative yang didukung PBB di Turki pada 22 Juli lalu, beberapa juta ton jagung, gandum, produk bunga matahari, barley, rapeseed, dan kedelai telah berhasil kembali diekspor dari Ukraina.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Ukraina dapat memulai kembali ekspor biji-bijian dan pupuk Laut Hitam untuk mengamankan pasokan global yang sempat terhambat ketika Rusia menginvasi tetangganya pada 24 Februari lalu.

Kesepakatan ekspor Ukraina pada awalnya disepakati selama 120 hari.  Bahkan kepala bantuan PBB, Martin Griffiths optimis jika itu akan diperpanjang hingga November mendatang.

Namun Rusia tiba-tiba menangguhkan kesepakatan yang telah dibuat dan justru mengajukan diri menggantikan pasokan Ukraina dengan mengirimkan produk biji-bijianya dengan harga murah.

"Rusia siap memasok hingga 500.000 ton biji-bijian ke negara-negara miskin dalam empat bulan ke depan secara gratis, dengan bantuan dari Turki, dan menggantikan pasokan biji-bijian Ukraina," kata Menteri Pertanian Rusia, Dmitry Patrushev.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Peluang Emas Kuliah Gratis Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Di Posko Pengungsian, Gibran Pastikan Kebutuhan Anak-Anak Terpenuhi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Prioritaskan Guru PPPK Wilayah 3T Jadi PNS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19

Utang AS Terus Membengkak, Tekanan Fiskal Makin Besar

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:16

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07

Purbaya Siapkan Rp31 Triliun untuk Pengalihan PPPK ke Pusat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:05

Emas “di Bawah Bantal” Warga RI Capai 1.800 Ton, Nilainya Diprediksi Tembus Rp4.400 Triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:01

Tak Benar Febrie Minta Emas 74 Kg hingga Uang Dikembalikan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:45

Pemerintah Raup Rp34 Triliun dari Lelang SUN

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Iran Siapkan Serangan Balasan hingga Eropa Jika AS Perluas Perang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Selengkapnya