Berita

Mantan Dirut PNRI Isnu Edhi Wijaya saat membacakan pledoi di PN Tipikor Jakarta/Ist

Hukum

Isnu Edhi Wijaya Ngaku Tak Kenal Setnov dan Tak Mengetahui ada Aliran Dana ke Pejabat Kemendagri

SENIN, 24 OKTOBER 2022 | 22:02 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Mantan Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI (PNRI) Isnu Edhi Wijaya membacakan nota pembelaan alias pledoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (24/10).

Dalam pledoinya, Isnu membantah dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa dirinya sebagai ketua konsorsium mengetahui ada aliran dana proyek e-KTP yang dialirkan oleh staf Dirjen Dukcapil Joseph Sumartono kepada anggota dewan di DPR RI dan kepada pejabat di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“Saya pastikan saya tidak terlibat dan tidak pernah mengetahui adanya aliran uang atau pemberian yang dilakukan, baik melalui Joseph Sumartono, dan lain-lain dan ke anggota dewan dan juga pejabat Kemendagri,” kata Isnu Edhi Wijaya dalam pledoinya.


Isnu mengatakan, bantahan tersebut juga berkesesuaian dengan BAP mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman bahwa tidak pernah berurusan uang dengan dirinya sebagai ketua konsorsium. Karena kata Isnu, setiap anggota konsorsium memiliki kewenangan sendiri sesuai dengan akta konsorsium yang sudah disepakati bersama.

“Saya tidak kenal anggota dewan, tidak kenal Setya Novanto dan tidak kenal Jospeh Sumartono,” ujar Isnu.

Dalam pledoinya itu, Isnu juga meminta agar majelis hakim membatalkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK soal kerugian negara akibat proyek e-KTP sebesar Rp 2,3 triliun yang menuurutnya banyak kesalahan penghitungan oleh auditor BPKP.

Dirinya juga membahas soal kerugian negara yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebesar Rp 2,3 triliun.

"Saya mohon majelis hakim membatalkan kerugian negara yang didalilkan oleh JPU melalui audit BPKP, karena tidak sesuai dengan kaidah perhitungan yang disebutkan sendiri oleh auditor BPKP. Sebab perhitungan ini banyak kesalahannya dan dapat menimbulkan fitnah," ujarnya.

Dalam kasus ini, JPU KPK menuntut Isnu Edhi Wijaya dan mantan Staf Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)/Ketua Tim Teknis Teknologi Informasi Penerapan e-KTP Husni Fahmi 5 tahun penjara.

Jaksa menyatakan Isnu dan Husni terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi terkait pengadaan paket penerapan kartu tanda penduduk berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional (e-KTP). Selain pidana penjara, baik Isnu maupun Husni juga dituntut jaksa KPK untuk membayar denda Rp300 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Dalam kasus ini, KPK juga sudah menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka yaitu Andi Agustinus alias Andi Narogong; Dirut PT Quadra Solution, Anang Sugiana Sudihardjo; Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, Irman.


Kemudian, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, Sugiharto; Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra, Paulus Tannos; Sekretaris Jenderal Kemendagri, Diah Anggraeni; serta Ketua Panitia Pengadaan Barang atau Jasa di lingkungan Ditjen Dukcapil Kemendagri, Drajat Wisnu Setyawan.

Jaksa menyebut Husni Fahmi diperkaya sebesar 20 ribu dolar AS dari proyek e-KTP ini. Tak hanya Husni Fahmi, sejumlah pihak lainnya juga diperkaya dari proyek ini. Adapun mereka yang turut diperkaya dari proyek e-KTP yakni, Andi Narogong; Setya Novanto; Irman; Sugiharto; Diah Anggraeni; Drajat Wisnu Setyawan; Wahyudin Bagenda; dan Johanes Marliem. Isnu Edhi dan Husni Fahmi juga turut memperkaya PT PNRI dan perusahaan anggota konsorsium PNRI lainnya.

Atas perbuatannya, Isnu Edhi Wijaya dan Husni Fahmi dituntut melanggar Pasal 3 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.






Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya