Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Di Bawah Kesepakatan dengan China, Kenya Banyak Mengalami Kerugian

SENIN, 03 OKTOBER 2022 | 01:13 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kenya menjadi salah satu negara yang terjebak dalam jebakan utang Belt and Road Initiative (BRI) milik China yang kebanyakan merugikan negara Afrika Timur ini. Tidak hanya itu, perdagangan barang serta jasa yang ditawarkan China dengan harga miring, kerap kali mudah rusak dan dikerjakan dengan asal-asalan sehingga tak jarang mengancam keselamatan masyarakat Kenya.

Seperti laporan yang dimuat Financial Post pada Kamis (29/9), Kenya telah banyak bergantung dari pinjaman yang diberikan China untuk meningkatkan pertahanan, ekonomi, infrastruktur, serta fasilitas layanan publik milik mereka. Namun, dalam banyak kasus, kepercayaan besar yang diberikan oleh Kenya tidak sebanding dengan apa yang diberikan Beijing.

Selama beberapa dekade terakhir negara berkembang ini telah mengalami pertumbuhan impor yang cukup besar dari China, karena infrastruktur Kenya yang berkembang dari keterlibatannya dalam BRI. Akan tetapi, merujuk pada neraca perdagangan, kedua negara ini memiliki keuntungan yang sangat jauh berbeda.


Hal ini dilihat dari data impor Kenya dari China yang berhasil mencapai angka 97 persen, sedangkan ekspornya ke China hanya berjumlah 3 persen. Jumlah tersebut dikatakan sangat menguntungkan bagi China dan telah merugikan Kenya.

Ketidakseimbangan tersebut diperkuat oleh fakta bahwa ekspor utama China ke Kenya adalah peralatan dan mesin listrik, yang sebagian besar digunakan dalam sektor konstruksi, sementara Kenya hanya mengekspor terak bijih mineral, soda ash, beberapa produk pertaniannya, dan lain-lain.

Hubungan perdagangan dan investasi yang tidak seimbang pun secara bertahap telah membuat pemerintah Kenya semakin khawatir. Mereka menyerukan untuk meninjau ulang kebijakannya terhadap China. Seruan ini datang ketika beberapa peralatan teknis China tampaknya merusak berbagai keamanan dan layanan publik di Kenya karena masalah kualitasnya yang buruk.

Baru-baru ini, Angkatan Bersenjata Kenya melaporkan kesalahan substansial pada drone yang dibeli dari pemasok China, yang menyebabkan drone mereka sering kali jatuh, karena kualitas yang buruk. Militernya saat ini telah melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang masalah tersebut, dan telah menuntut klarifikasi dari perusahaan CETCI yang merupakan pemasok drone dari China.

Selain itu Departemen Kenya lainnya pun dikabarkan mengalami masalah serupa.  Layanan Metropolitan Nairobi (NMS) menghadapi beban kelalaian dari perusahaan China yang melakukan pekerjaan umum.  NMS memberikan kontrak untuk air, serta Perpanjangan Saluran Pembuangan dan Penerangan Jalan di berbagai wilayah Nairobi kepada China Road and Bridge Corporation (CRBC).  

Namun seluruh pekerjaan perusahaan China itu dianggap tidak mematuhi standar yang baik sehingga menyebabkan ketidaknyamanan publik, dan bahkan kecelakaan.

Kenya saat ini telah meminta penjelasan dari CBRC tentang dua kecelakaan yang melibatkan anak-anak di lokasi proyeknya. Mereka juga menegur perusahaan China atas pelanggaran ketentuan kontrak yang berkaitan dengan keselamatan, keamanan dan perlindungan Lingkungannya. Menurut laporan yang beredar di media sosial, CBRC dikabarkan juga telah melakukan korupsi dalam proyek jalan yang diberikan Kenya.

Masalah ini kemudian terus merembet pada publik Kenya yang semakin dibuat kesal oleh etika kerja, moral, dan praktik lingkungan dari perusahaan-perusahaan China yang bekerja di negara tersebut.  Perusahaan ini tak jarang melakukan diskriminasi kepada masyarakat lokal.

Atas hal ini, sulit bagi Kenya untuk dapat menindaklanjuti serta mengurangi ketergantungannya pada mitra dagang utamanya itu. Sebab keterlibatannya yang sangat tinggi dengan Beijing membuatnya sulit melepaskan keterikatannya itu.  Namun, ada hal yang bisa dilakukan oleh Kenya untum mengatasi hal tersebut. Mereka harus tegas mendesak China untuk meningkatkan kualitasnya serta menghormati norma-norma lokal, yang kemungkinan dapat menjadi awal yang baik dalam kerjasama tersebut.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya