Berita

Din Syamsuddin saat mengisi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), di Kudus, Jawa Tengah, Senin (26/9)/Ist

Nusantara

Din Syamsuddin di UM Kudus: Muhammadiyah Potensial Menjadi Gerakan Pencerahan Global

SENIN, 26 SEPTEMBER 2022 | 20:21 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Tema Muktamar Ke-48 Muhammadiyah & Aisyiah "Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta", walau terkesan ideal bahkan utopis, namun relevan, penting, dan mendesak untuk diwujudkan.  

Sebab, Muhammadiyah untuk itu memiliki potensi besar, dan infrastruktur nilai yang kuat.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Prof. Din Syamsuddin, dalam kuliah umumnya di Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), di Kudus, Jawa Tengah, Senin (26/9).


“Sesungguhnya Muhammadiyah, sudah melaksanakan misi suci itu lewat gerakan pencerahannya seabad lebih,” ucap Din Syamsuddin.

Ia menuturkan, dua dasawarsa terakhir, Muhammadiyah sudah go international, dengan membentu Cabang Istimewa di sekitar 30 negara, dan mempunyai tujuh organisasi saudara, yaitu organisasi bernama Muhammadiyah, dengan paham dan manhaj gerakan serupa, walau tidak memiliki hubungan organisatoris dengan Muhammadiyah di Indonesia.

Lebih dari itu, kata Din Syamsuddin, Muhammadiyah menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah organisasi dan lembaga di mancanegara, dan mendirikan universitas/college di luar negeri.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu ini menambahkan, gerakan pencerahan Muhammadiyah penting dan urgen di tengah kerusakan akumulatif dalam peradaban dunia. Sistem Dunia yang memimpinkan kehidupan global terakhir ini, adalah sistem yang rusak karena bersifat antroposentristik atau berorientasi pada diri manusia (bukan berisfat teosentristik atau berorientasi pada Sang Pencipta).

“Sehingga mendorong terjadinya kebebasan dalam berbagai aspek peradaban,” kata jelas Guru Besar FISIP UIN Jakarta ini.

Sistem Dunia itulah yang harus diganti, dan peradaban dunia harus direkonstruksi dan direstorasi, dan Islam dapat menjadi solusi.

Dalam kaitan inilah, menurut Chairman of World Peace Forum ini, Muhammadiyah potensial utk menjadi lokomotif perubahan dan perbaikan. Syaratnya adalah Muhammadiyah harus mampu memformulasikan Wawasan Islam Berkemajuan menjadi ideologi dan strategi peradaban yang operasional ke dalam sistem ekonomi, politik, dan budaya.

Dijelaskan Din Syamsuddin, dalam ayat al-Qur'an Surah Ibrahim ayat 1, gerakan pencerahan harus bertumpu pada wahyu dan ilmu atau berorientasi pada pemahaman tentang ayat-ayat wahyu dan ayat-ayat semesta.

Untuk itu, Din Syansuddin mengharapkan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiah, di Kampus UM Surakarta, 19-20 Nopember 2022 ini perlu memperjelas Wawasan Islam Berkemajuan, mempertajam kerangka strategis, dan meningkatkan fungsi organisasi menjadi organisasi modern yang menerapkan managemen perubahan (change management) dan kepemimpinan perubahan (change leadership).

Atas pertanyaan tentang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin menyatakan Muhammadiyah tidak mengalami krisis kader dan pemimpin, sehingga kepemimpinan tidak menjadi masalah di Muhamamdiyah. Apalagi corak kepemimpinan di Muhammadiyah bersifat kolektif kolegial.

“Maka siapapun yang menjadi pucuk hanyalah hal yang memerlukan kesepakatan untuk dimajukan selangkah dan ditinggikan seranting,” tuturnya.

Menurut Din Syamsuddin, Pimpinan Pusat Muhammadiyah satu periode terakhir sudah menampilkan kinerja baik, dan periode mendatang harus lebih baik.

Untuk itu, Din Syamsuddin menyarankan agar sebagian dari 13 anggota PP Muhammadiyah disegarkan, yakni dengan memasukkan kader-kader muda yang mumpuni dan berkepribadian.

“Yang penting, segenap muktamirin dan muktamirat harus berhimmah menjadikan Muktamar Solo nanti muktamar yang aman, lancar, elegan, berkualitas dan bermartabat,” demikian Din Syamsuddin.

Kuliah Umum turut dihadiri Rektor UMKU Dr. Kusnoto, MKes, MEpid, Ketua BPH UMKU Drs. Syajad. MPD, dan 600an civitas akademia UMKU, pimpinan Muhammadiyah hingga memenuhi ruang dalam  hingga meluber ke Aula bagian luar.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya