Berita

Menko Polhukam Mahfud MD memimpin konferensi pers terkait dugaan korupsi Lukas Enembe di Kemenkopolhukam/RMOL

Hukum

Soal Dugaan Korupsi Lukas Enembe, Mahfud MD: PPATK Temukan Penyimpangan Ratusan Miliar

SENIN, 19 SEPTEMBER 2022 | 16:05 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Bukan hanya terkait uang Rp 1 miliar yang diterima oleh Gubernur Papua Lukas Enembe (LE), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) temukan dugaan korupsi atau ketidakwajaran dari penyimpangan dan pengelolaan uang dengan jumlah ratusan miliar rupiah.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD menanggapi terkait akan adanya demo besar-besaran di Papua pada Selasa (20/9) usai ditetapkannya Gubernur Lukas sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mahfud yang didampingi oleh Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, Ketua PPATK, pejabat tinggi BIN, Polri, Intelkam Polri, dan juga BAIS TNI mengatakan, kasus Lukas Enembe di KPK bukan rekayasa politik dan tidak ada kaitannya dengan partai politik (parpol) atau pejabat tertentu, melainkan atas temuan dan fakta hukum.


"Dan ingin saya sampaikan bahwa, dugaan korupsi yang dijatuhkan kepada Lukas Enembe yang kemudian menjadi tersangka bukan hanya terduga bukan hanya gratifikasi Rp 1 miliar," ujar Mahfud kepada wartawan, Senin (19/9).

Mahfud mengungkapkan, ada laporan dari PPATK tentang dugaan korupsi atau ketidakwajaran dari penyimpangan dan pengelolaan uang yang jumlahnya ratusan miliar dalam 12 hasil analisis yang disampaikan ke KPK.

"Saat ini saja ada blokir rekening atas rekening Lukas Enembe per hari ini itu sebesar Rp 71 miliar yang sudah diblokir, jadi bukan Rp 1 miliar," kata Mahfud.

Mahfud menjelaskan, masih ada kasus-kasus lain yang sedang didalami. Akan tetapi, terkait dengan kasus saat ini, yaitu adanya ratusan miliar dana operasional pimpinan dana pengelolaan PON, adanya manajer pencucian uang yang dilakukan atau dimiliki oleh Lukas Enembe.

"Selanjutnya BPK selama ini tidak berhasil melakukan pemeriksaan karena selalu tidak bisa diperiksa. Sehingga BPK lebih banyak disclaimer atas kasus keuangan di Papua tersebut. Oleh sebab itu, lalu bukti-bukti hukum mencari jalannya sendiri dan ditemukanlah kasus-kasus tersebut," jelas Mahfud.

Mahfud pun turut mengomentari terkait pernyataan yang menyebutkan bahwa Lukas pada Maret 2019 lalu ke Jakarta untuk berobat dan tinggal di Jakarta karena ada pembatasan akibat pandemi Covid-19, sehingga pada Mei 2019, Lukas meminta Tono untuk transfer  uang Rp 1 miliar melalui BCA. Hal itu kata Mahfud, dianggap sangat tidak logis.

"Karena, Covid-19 itu terjadi pada tahun 2020. Bagaimana dia sudah lockdown dan mengirim uang karena lockdown Covid tahun 2019. Sehingga itu sangat menyesatkan publik seakan-akan uang Rp 1 miliar itu terjadi pada saat covid, padahal covidnya itu dia menyebutnya 2019 jauh setahun dan lockdownnya itu di Indonesia saudara tahun itu tahun 2020 dan tahun 2019 ini ditulis dua kali di surat ini, bukan keliru ketik. Karena dua kali ditulis," terang Mahfud.

Dengan demikian, Mahfud kembali menerangkan bahwa, kasus yang menimpa Lukas bukan baru terjadi sekarang menjelang situasi politik menjelang 2024.

"Saya persilakan saudara membuka berita membuka situs tanggal 19 Mei tahun 2020. Saya selaku Menkopolhukam sudah mengumumkan adanya 10 korupsi besar, 10 korupsi besar di Papua dan ini masuk di dalamnya. Itu bukan sekarang, itu tahun 2020, saya sudah umumkan," tutur Mahfud.

Bahkan kata Mahfud, dirinya juga mencatat, setiap tokoh Papua, tokoh pemuda atau tokoh agama, tokoh adat dari Papua yang datang selalu bertanya tindakan atas pernyataannya yang mengeluarkan daftar 10 kasus korupsi di Papua.

"Oleh sebab itu kepada saudara Lukas Enembe, ya menurut saya kalau dipanggil KPK datang saja. Jika tidak cukup bukti, kami ini semua yang ada di sini menjamin, dilepas, ndak ada dihentikan itu. Tetapi, kalau cukup bukti ya harus bertanggung jawab. karena kita sudah bersepakat membangun Papua yang bersih dan damai sebagai bagian dari pembangunan NKRI," pungkas Mahfud.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya