Berita

Ilustrasi SPBU Pertamina/Net

Publika

Subsidi BBM Diduga Ada Pembodohan atau Pembohongan kepada Rakyat

OLEH: ADIAN RADIATUS
SELASA, 30 AGUSTUS 2022 | 07:59 WIB

GONJANG-ganjing keuangan negara yang semakin mengkhawatirkan pihak pemerintahan Presiden Joko Widodo, sehingga pilihan menaikkan harga BBM tampaknya sudah menjadi keharusan. Hal ini tentu saja ditanggapi oleh berbagai pihak dengan keprihatinan yang sangat mendalam. Berpihak kepada rakyat atau celaka adalah gambaran situasi pilihannya.

Pertanyaan paling mendasar sesungguhnya adalah kenapa masalah ini menjadi demikian memojokkan rakyat yang seharusnya bisa 'adem ayem' menikmati kesejahteraan dari kemakmuran negaranya. Kekayaan bumi Nusantara  justru seakan berbalik menjadi 'bisa' yang meracuni kehidupan banyak rakyat penghuninya.

Indikasi kesalahan pengelolaan atas kekuatan dan kekayaan negara tampaknya sulit terbantahkan. Karena nyatanya pemerintah hanya bisa berkutat di seputar kenaikan harga berbagai komoditas secara abnormal, tambahan hutang sana sini, memajaki berbagai bidang sumber kehidupan rakyat, tingginya inflasi pangan di atas 10 persen dan naiknya angka pengangguran.


Yang juga memprihatinkan rakyat adalah ketidakmampuan pemerintah untuk memanfaatkan kekuasaannya mengatasi dominasi kelompok oligarki atas SDA milik negara. Bahkan yang terjadi cenderung sebaliknya. Miris.

Seakan terbuai oleh proyek-proyek infrastruktur yang beberapa di antaranya justru menjadi beban keuangan langsung atau tidak langsung terhadap pertumbuhan riil ekonomi masyarakat.

Apalagi ditambah alokasi anggaran menghadapi pandemi Covid-19 yang akuntabilitasnya diragukan banyak kalangan. Proyek Kereta Cepat Bandung-Jakarta pun bisa jadi contoh konyolnya kalkulasi manajemen pemerintahan ini.

Dan ketika ekses global atas perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu sumbu utama goncangan ekonomi di banyak negara, maka pemerintah tampaknya minim kreativitas strategi melaksanakan 'emergency economic' pada rakyatnya.

Pilihan yang ada hanya di seputar fiskal, moneter, dan suku bunga dengan kebijakan yang berujung upaya menaikan harga BBM belaka.

Rakyat acapkali diberi beban sementara kaum elite oligarki diberi solusi kemudahan yang nyaris tanpa 'reserve' apapun. Maka tak heran bila akhirnya upaya pengurangan subsidi BBM menjadi sangat diragukan kalkulasinya dan mendapat penolakan di mana-mana.    

Berbagai analisis kerapuhan dan ketimpangan cara pengelolaan ekonomi dan politik telah banyak disampaikan secara transparan oleh para ahli seperti Rizal Ramli dan Anthony Budiawan, namun tampaknya kekuasaan atas pemerintahan lebih dominan ketimbang akal sehat keilmuan demi menyelamatkan situasi abnormal ini.

Sekarang meskipun Menko Marves sudah bicara bahwa presiden akan umumkan kenaikan harga BBM itu sejak minggu lalu, tetapi rupanya presiden masih memerlukan kepastian pengamanan sosial politik yang akan menyertai keputusannya itu.

Hal yang paling mendasar yang harus jadi prinsip kebijakan sesungguhnya bukan sekadar harga, tetapi kejujuran. Karena jangan sampai di dalam upaya pengurangan subsidi itu ada faktor politis ekonomis, sehingga unsur pembodohan atau pembohongan kepada rakyat atas angka-angka subsidi murni terkait BBM ini.

Penulis adalah pemerhati sosial politik

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya