Berita

Menteri Keuangan Bangladesh, Mustafa Kamal/Net

Dunia

Cari Alternatif Pinjaman, Bangladesh Tak Ingin Hancur oleh Jebakan Utang China

SABTU, 20 AGUSTUS 2022 | 09:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

  Mudahnya negara penerima mengakses dana investasi dari China melalui Belt and Road Initiative (BRI) memunculkan ketergantungan. Banyak dari mereka yang terlambat menyadari ketika ekonominya jatuh dan dirinya telah terjebak ke dalam perangkap utang China.

Negara penerima pinjaman yang tidak mampu membayar, menjadi tak berdaya karena memperoleh tekanan dan tak dapat menemukan jalan keluar.

Sementara sebagian yang lain  berjuang untuk bertahan hidup dengan mulai membatasi ketergantungan utang dengan membatalkan proyek yang pendanaanya didukung China.  


Kekhawatiran Bangladesh mulai muncul ketika melihat negara-negara pengutang China, seperti Sri Lanka dan Pakistan saat ini mendekati kehancuran dan terjebak gagal bayar karena ekonomi negara yang kian merosot ditambah dengan aksi protes warga yang tak tahan hidup menderita.

Tak ingin ikut terjebak, Menteri Keuangan Bangladesh Mustafa Kamal memberikan peringatan serius terkait potensi kehancuran dari diplomasi utang China. Ia meminta negara lain untuk berpikir dua kali ketika mengambil lebih banyak pinjaman melalui BRI.

Inflasi global dan pertumbuhan yang melambat menambah ketegangan di pasar negara berkembang yang berutang, menurutnya.
Kamal menyoroti kebijakan tegas Zambia yang membatalkan proyek utama senilai 23,8 triliun rupiah dari China untuk mencegah diplomasi utang yang hanya menuai keuntungan Beijing sementara negara-negara penghutang didorong menuju krisis ekonomi.

Seperti dimuat dalam Financial Times, Kamal mengatakan China harusnya menerapkan kebijakan yang lebih ketat ketika memberikan pinjamannya, sehingga dapat mengantisipasi kemungkinan gagal bayar.

Perdana Menteri Sheikh Hasina mengungkapkan bahwa Bangladesh cukup beruntung, karena telah membuat langkah cepat dengan mencari dana di tempat lain dengan harapan memiliki persyaratan yang lebih baik dan transparan.  

"Bangladesh berhasil memperoleh pinjaman senilai 59,5 triliun rupiah dari pemberi pinjaman multilateral dan bilateral lainnya, termasuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, Bank Investasi Infrastruktur Asia dan Badan Kerjasama Internasional Jepang," ungkapnya.

Meski begitu, Bangladesh telah terpukul keras oleh tagihan impor energi yang meningkat dan kekurangan bahan bakar yang mengharuskan pemadaman listrik setiap hari. Cadangan devisa negara juga turun menjadi 595 triliun rupiah, padahal tahun lalu mencapai 669 triliun.  
 
Saat ini, proyek pinjaman ambisius China juga mulai menurun di tengah krisis ekonomi yang mencekik. Menurut Globely News, pembiayaan BRI pada proyek-proyek di tahun 2022 mengalami penurunan yang signifikan dengan bank-bank pembangunan China yang mulai menolak pembiayaan proyek di negara berisiko tinggi.

"Nilai proyek baru yang terkait dengan BRI turun menjadi 422 triliun rupiah pada semester pertama 2022, dari 440 triliun pada periode yang sama tahun lalu," ungkap laporan tersebut.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya