Berita

Michael Hudson/Net

Dunia

Lewat Sanksi untuk Rusia, AS Berhasil Menghilangkan Pesaingnya di Eropa Terutama Jerman

SELASA, 09 AGUSTUS 2022 | 06:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Genderang perang ekonomi yang ditabuh negara-negara Barat terhadap Rusia yang dimaksudkan melemahkan Moskow justru telah membawa keuntungan bagi negara yang dipimpin Vladimir Putin itu.

Mantan pemodal Wall Street Michael Hudson mengatakan kepada outlet berita Jerman Junge Welt bahwa tindakan Barat justru telah menjadi bumerang dan mungkin membawa banyak kebaikan bagi Rusia.

“Sanksi Barat sangat bagus untuk Rusia. Setiap negara yang terancam oleh sanksi AS dipaksa untuk mandiri,” kata Hudson dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari RT, Senin (8/8).


Sanksi telah secara efektif mendorong Rusia menuju substitusi impor, dan negara itu berada di jalur untuk sepenuhnya bebas dari ketergantungan pada barang-barang Barat.

“Daripada mengimpor mobil Jerman, Rusia beralih ke China untuk mengembangkan industri otomotifnya sendiri," katanya, menambahkan  bahwa Rusia sekarang bergerak sangat cepat untuk menggantikan ketergantungannya pada Barat untuk barang-barang manufaktur dengan produksi dalam negerinya sendiri.

"Satu-satunya hal yang tidak dapat mereka (Rusia) produksi adalah film Walt Disney dan tas tangan Italia," kata ekonom tersebut.

Hudson juga mencatat bahwa sanksi, yang maksudkan untuk mengurangi keuntungan Rusia dari ekspor energi, malah membawa pendapatan tambahan ke anggaran negara Rusia.

“Rusia adalah penerima manfaat besar dari rencana embargo energi Jerman. Semakin sedikit gas yang dijual Rusia, semakin banyak uang yang dihasilkan,” katanya, merujuk pada harga energi yang meroket yang tumbuh seiring dengan penurunan ekspor Rusia.

Sanksi Barat juga gagal mengacaukan mata uang nasional, rubel, dan telah mempercepat proses de-dolarisasi, kata analis.

“Bahkan sebelum perang di Ukraina, ada upaya untuk mende-dolarisasi (namun) tidak ada yang mengharapkan prosesnya dimulai begitu cepat. Tapi Washington telah membekukan semua akun dalam dolar dan euro, jadi Rusia harus keluar dari dolar sistem. Dan inilah yang membantu rubel Rusia. Maksud di balik sanksi Barat adalah untuk meruntuhkan rubel agar impor Rusia lebih mahal," ujarnya.

Sebaliknya, kata Hudson, pemerintah Rusia membalas dan memutuskan: Jika kita tidak dibayar dalam euro dan dolar untuk minyak, gas, titanium dan aluminium, Barat harus membayar dalam rubel.

"Dan rubel telah dihargai nilainya. Adalah adil untuk mengatakan bahwa Barat telah menembak dirinya sendiri," katanya.

Washington adalah pihak penerima manfaat dari sanksi Barat terhadap Rusia, karena menurut Hudson, “Pada dasarnya, Washington tidak peduli jika Rusia memenangkan perang (di Ukraina), karena AS telah berhasil menghilangkan pesaing di Eropa, terutama Jerman."

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya