Berita

Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti/Ist

Politik

Ray Rangkuti: Pejabat yang Bekerja Berdasar Aturan, Akhirnya Mereduksi Etika

KAMIS, 04 AGUSTUS 2022 | 23:56 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Sebagian besar kesadaran etika pejabat publik saat ini hampir kosong. Bahkan, banyak pejabat yang tindakannya secara aturan tidak melanggar, tapi secara etika melanggar.

Begitu pandangan Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti dalam diskusi Gerakan Perempuan Milenial untuk Keadilan (GPMK) bertema "Etika Pejabat Publik Dalam Perspektif Sensitifitas Gender", di Hotel Balairung, Jakarta Timur, Kamis (4/8).

"Kesadaran etik pejabat negara ini kosong sedangkan aturan sangat tebal. Sehingga, semua orang yang bekerja berdasarkan pada aturan akhirnya mereduksi etika," ujar Ray Rangkuti.


Ray menyingung soal pejabat publik yang baru-baru ini dilaporkan ke Komnas Perempuan, yakni Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa terkait kekerasan gender.

Menurutnya, jika pejabat negara melakukan pernikahan siri saja sudah bisa dikategorikan melanggar etika, apalagi yang sudah berulang seperti yang disangkakan dilakukan Suharso.

Dia pun terheran, saat sangkaan dan pelaporan ke Komnas Perempuan itu muncul, pada saat yang bersamaan Suharso tetap nyaman dengan jabtannya di kabinet.

"Lalu kenapa tidak mundur? Kalau dia punya kesadaran etika maka akan mundur. Namun, jika tidak punya kesadaran apalagi tidak merasa melanggar aturan maka biasa saja," katanya.

Ditambahkan Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Aktivis Perempuan Hartini Nara, kasus Suharso juga pernah dilakukan pada tahun 2011. Saat itu, Suharso diberhentikan menjadi menteri karena kasus yang sama, yaitu pernikahan dan perceraian akibat perselingkuhan.

"Maka kalau sudah ada korban, muncul lagi dari orang yang sama itu namanya kebiasaan. Dan hal itu dilakukan secara sadar dan berulang, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan ketiga keempat kalinya," katanya.

Hartini mengatakan, jika memang atasan Suharso dalam hal ini Presiden Joko Widodo memiliki etika yang tinggi dan sensitifitas gender maka akan memberhentikan menterinya yang melanggar kekerasan tersebut.

"Jadi atasannya harus memiliki kepekaan. Mestinya pun singkirkan saja, karena masih ada banyak sumber daya manusia (SDM) hebat yang bisa menggantikan," pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya