Berita

Perusahaan teknologi Huawei China diduga terlibat dalam kasus korupsi dengan mantan CEO Mauritius Telecom/Net

Dunia

Perusahaan Huawei China Diduga Terlibat Jaringan Korupsi dengan Mauritius Telecom

RABU, 03 AGUSTUS 2022 | 11:46 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Sherry Singh, mantan CEO Mauritius Telecom(MT) dituduh mengeksploitasi prosedur penawaran selektif untuk membantu perusahaan raksasa Huawei asal China mengembangkan operasinya di India.

Huawei memainkan peran penting dalam mengembangkan jaringan 3G di Mauritius. Kontroversi seputar pemberian kontrak selama masa jabatan Sherry Singh yang baru saja mengundurkan diri pada bulan lalu telah menarik perhatian pada aliansi tidak suci antara eksekutif dan pemerintah China.

Berbagai isu terkait alokasi kontrak ke Huawei di bawah era mantan Singh ini telah merebak. Dikutip dari Zee News, Huawei pada tahun 2006 hingga 2007 menerima kontrak ratusan juta rupee, namun di bawah Singh kontrak tersebut melonjak hingga miliaran rupee.


Dalam kurun waktu yang sama, Huawei menerima proyek UTRAN 3G. Raksasa telekomunikasi itu juga mendapatkan kontrak untuk memperluas layanan internetnya. Untuk meningkatkan ketahanan jaringan saat ini, ia melanjutkan dan memasang enam sakelar dan sebuah router.

Semenjak itu, Mauritius mengalami peningkatan layanan internet dan telepon seluler, kemudian Huawei ditugaskan kembali untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas jangkauan jaringan seluler sebesar 18 persen.

Mengutip sumber, laporan Mauritius News menambahkan bahwa Huawei sebagian besar telah mengembangkan jaringan 3G di negara kepulauan itu. Dalam beberapa kesempatan, perusahaan lain seperti Emtel dikabarkan turut meminta layanan Huawei untuk mengembangkan jaringan mereka.

"Oleh karena itu, jangan dipercaya bahwa Huawei hanya bekerja sama dengan Mauritius Telecom," kata sumber tersebut.

Sementara itu menurut Biro Investigasi Federal (FBI), ini merupakan hal yang berbahaya bagi keamanan negara. FBI menuduh China menggunakan Huawei untuk melakukan operasi pengawasan. Menurut sumber yang dikutip oleh CNN, FBI menemukan bahwa peralatan Huawei buatan China di atas menara seluler dekat pangkalan militer AS di pedesaan Midwest dapat menangkap dan mengganggu komunikasi Departemen Pertahanan yang sangat terbatas, termasuk yang digunakan oleh Komando Strategis AS, yang mengawasi senjata nuklir negara itu.

Temuan penyelidikan didasarkan pada informasi yang diberikan oleh pejabat keamanan nasional saat ini dan sebelumnya. Tetapi laporan media menyatakan bahwa membuktikan bahwa paket data tertentu dicuri dan diangkut ke luar adalah tantangan besar, sehingga sulit untuk memastikan apakah data tersebut dikirim ke Beijing dari menara ini.

Beberapa laporan mengklaim bahwa peralatan Huawei dapat mencegat lalu lintas sel komersial dan gelombang udara yang sangat terbatas yang digunakan oleh militer dan mengganggu komunikasi Komando Strategis AS yang penting, yang memungkinkan negara itu untuk memata-matai persenjataan nuklir Amerika.

“Ini masuk ke beberapa hal paling sensitif yang kami lakukan. Itu akan berdampak pada kemampuan kita untuk memerintah dan mengendalikan dengan triad nuklir. Itu masuk ke dalam kategori Bona Fide Determination (BFD). Kalau terganggu, itu adalah hari yang sangat buruk,” kata mantan pejabat FBI itu. Sementara itu China menyangkal tuduhan dalam memata-matai AS.

Selain korupsi, hubungan skandal antara perusahaan teknologi Huawei China dan mantan CEO Mauritius Telecom ini juga dapat berdampak besar pada keamanan nasional India.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya