Berita

HIMARS/Net

Dunia

Lebih Gesit, HIMARS jadi Senjata Paling Ampuh untuk Lawan Rusia

SELASA, 26 JULI 2022 | 17:59 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) atau Sistem Artileri Roket Mobilitas Tinggi dinilai sangat cocok untuk perang di Ukraina melawan Rusia antaran lebih gesit daripada peluncur roket lainnya.

Demikian yang dikatakan oleh pensiunan Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), Mark Hertling lewat unggahannya di Twitter pada Senin (25/7).

Sejak AS setuju untuk berbagi sistem rudal, pasukan Ukraina mengatakan mereka telah menggunakan HIMARS untuk menyerang Rusia.


Dimuat Newsweek, Menteri Pertahanan Ukraina Oleksiy Reznikov memuji ketepatan sistem rudal ini.

"Penembak kami menggunakan HIMARS dengan sangat hati-hati. Mereka bekerja seperti ahli bedah dengan pisau bedah," kata Reznikov.

Reznikov mengatakan keakuratan HIMARS telah memungkinkan pasukan Ukraina menghancurkan penyeberangan jembatan, serta tempat penyimpanan amunisi dan pos komando Rusia.

Menurut Reznikov, serangan tersebut membuat pasukan Rusia kehilangan kemampuan mereka untuk melakukan operasi tempur.

Hertling mengatakan Ukraina pada awalnya meminta unit Multiple Launch Rocket System (MLRS).

Namun M270 MLRS adalah kendaraan yang dirancang untuk bersaing dengan tank di medan yang kasar. Sementara M142 HIMARS, katanya, adalah kendaraan beroda yang bergerak cepat dengan kecepatan 60 mil per jam dan lebih tinggi di jalan raya, dan 30 mil per jam di medan kasar.

"MLRS lebih sulit diperbaiki, memiliki lebih banyak bagian. HIMARS pada dasarnya adalah truk dengan roket," tambahnya.

Di samping itu, Hertling mengatakan lebih mudah untuk melatih kru untuk mengoperasikan HIMARS. Pemeliharaan HIMARS juga dinilai lebih mudah.

Dengan 16 unit HIMARS di tangan pasukan Ukraina, masing-masing menembakkan dua pod sehari, ini artinya 5.800 rudal diluncurkan. Rudal jarak jauh yang dipandu GPS memiliki tingkat akurasi 90 persen, mencapai 5.200 target yang berhasil diserang dalam sebulan.

Sementara Hertling menambahkan bahwa AS dan sekutunya harus mempertimbangkan risiko memberi Ukraina begitu banyak senjata berteknologi tinggi, namun ia yakin bahwa AS akan membuat keputusan yang bijaksana.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Video Viral, Netanyahu Menyerah dan Flotilla Bebas

Senin, 25 Mei 2026 | 01:57

Narasi Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merek Tertentu per 1 Juni 2026 Hoax!

Senin, 25 Mei 2026 | 01:40

Euforia Bobotoh

Senin, 25 Mei 2026 | 01:20

Sugiono Dianggap Berhasil Terjemahkan Kerja Nyata Prabowo

Senin, 25 Mei 2026 | 00:59

Ini Tujuh Saran untuk Prabowo Realisasikan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 25 Mei 2026 | 00:40

Gubernur Lemhannas Minta Keberadaan BoP Dikaji Ulang

Senin, 25 Mei 2026 | 00:18

Edukasi Keuangan Bantu Mahasiswa Kelola Kantong Secara Sehat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:58

Golkar Jadikan MDI Instrumen Sosialisasi Program Prabowo ke Umat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:40

Prabowo Singgung Reshuffle Zulhas, PAN Terancam Tidak Digandeng Gerindra di 2029

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:19

Ekonomi Syariah dan Ekonomi Kerakyatan: Dua Tombak Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 | 22:43

Selengkapnya