Berita

Ilustrasi PDIP/Net

Politik

Banyak Parpol Potensi Mendistorsi Pemerintahan Jokowi, Hanya PDIP yang Tepat Sikapi Pemilu 2024

SENIN, 25 JULI 2022 | 15:56 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Manuver partai politik (Parpol) koalisi Indonesia Maju yang berkembang jelang Pemilu Serentak 2024, beberapa di antaranya mengancam kerja-kerja pemerintahan yang telah dibangun oleh Presiden Joko Widodo.

Penilaian tersebut disampaikan pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Ade Reza Haryadi, saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Senin (25/7).

"Kalau semua (parpol) koalisi pemerintahan tergesa-gesa melakukan manuver, ini berpotensi mendistorsi tugas-tugas pemerintahan yang menjadi tugas bagi Parpol koalisi untuk mengamankannya," ujar Reza.


Meski tahapan Pemilu Serentak 2024 sudah berjalan, menurut Reza seharusnya parpol koalisi pemerintahan tidak melakukan menuver politik baik untuk kepentingan pribadi maupun partainya, mengingat masa kerja pemerintahan masih harus didukung hingga 2024.

"Kalau semua konsentrasi ke sana (Pemilu Serentak 2024), ini bisa mengganggu kebijakan-kebijakan strategis pemerintahan," tambahnya menuturkan.

Sebagai contoh, Reza menyebutkan polemik kampanye yang dilakukan Ketum PAN yang kini tengah menjabat sebagai Menteri Perdagangan,  Zulkifli Hasan, yang telah mendistorsi fokus kerja pemerintahan dalam hal menyelesaikan kasus kenaikan harga minyak goreng.

"Artinya ini menunjukkan ada potensi tugas-tugas pemerintahan tidak dijalankan profesional dan mendistorsi agenda-agenda strategis pemerintahan yang harus dijalankan," cetusnya.

Namun hingga saat ini, Reza melihat dari sekian banyak Parpol koalisi yang mendukung pemerintahan Jokowi, hanya satu Parpol yang masih dalam koridor yang pas dalam menyukseskan kerja pemerintahan hingga berakhir di 2024 mendatang.

"Justru apa yang dilakukan PDIP ini saya kira adalah dalam konteks kepentingan publik, kepentingan pemerintah, lebih tepat ya karena tidak tergesa-gesa dalam membentuk koalisi dan sebagainya," tandas Reza.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya