Berita

Pengamat militer, Connie Rahakundinie/Net

Politik

Kecelakaan T-50i Golden Eagle Perlu Diselidiki dan Dianalisa untuk Jadi Bahan Pelajaran

SELASA, 19 JULI 2022 | 15:59 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Kecelakaan pesawat latih yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara, T-50i Golden Eagle di Pangkalan  Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, Senin (18/7), turut menyita perhatian pengamat militer, Connie Rahakundinie.

Apalagi, peristiwa ini menambah daftar kecelakaan T-50i Golden Eagle milik TNI AU buatan Korea Aerospace Industries (KAI) bekerjasama dengan Lockheed Martin menjadi 4 kali. Di mana pesawat ini dibeli Indonesia di tahun 2011 sebanyak 16 unit dan secara resmi memperkuat TNI AU sejak tahun 2013.

Mula-mula Connie Rahakundinie mengurai pandangannya tentang pelatihan militer. Kata dia, pesawat advanced trainer seperti T50 atau HS/BAe Hawk merupakan sistem filter pilot sebelum menuju pesawat tempur.


“(Artinya) ada acceptability ketika tingkat kecelakaannya secara alamiah lebih tinggi di level training lanjut ini daripada di pesawat tempur baik, tempus strategis (TS) maupun tempur taktis (TT),” ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (19/7).

Connie mengingatkan bahwa pesawat tempur jenis TS atau TT memang jauh lebih prioritas untuk frontline combat. Selain itu, harganya juga jauh lebih mahal. Artinya, ketika sudah menggunakan pesawar TS atau TT, pilot sudah harus menguasai kendali dengan baik sehingga tidak boleh ada lagi kesalahan terjadi.

"Meskipun demikian, tiap kecelakaan di level advanced trainer memerlukan penyelidikan, analisis, dan jadi pelajaran. Untuk selanjutnya diperbaiki serta dicegah atau kurangi risikonya,” katanya.

Terlepas dari itu, Connie menilai bahwa pesawat advanced trainer tetap harus dibeli dalam jumlah banyak.

“Tujuannya, untuk menggantikan attrition losses-nya,” demikian Connie.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya