Berita

Ribuan pengunjuk rasa berusaha merangsek masuk ke kediaman resmi presiden di Kolombo, Sri Lanka pada 9 Juli 2022/Net

Dunia

PBB: Krisis Sri Lanka Harus Jadi Warning untuk Kita Semua

MINGGU, 10 JULI 2022 | 10:23 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Krisis ekonomi parah yang dialami Sri Lanka harus menjadi peringatan bagi dunia. Lantaran dapat menciptakan krisis lainnya, termasuk politik dan keamanan.

PBB memperingatkan, dampak dari perang di Ukraina yang terlarut-larut dapat membuat semakin banyak negara kewalahan dan berisiko mengalami krisis ekonomi yang sama seperti di Sri Lanka.

"Kami menyaksikan serangkaian peristiwa tragis yang sedang berlangsung di Sri Lanka saat ini yang seharusnya menjadi peringatan bagi siapa saja," kata Administrator Program Pembangunan PBB (UNDP), Achim Steiner pada Kamis (7/7) seperti dimuat NDTV.


Bersamaan dengan peringatan tersebut, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) merilis data baru terkait lonjakan jumlah ornag yang terkena dampak kelaparan secara global.

Pada tahun 2021, orang yang terkena dampak kelaparan naik menjadi 828 juta orang, naik sekitar 46 juta sejak 2020. Total 150 juta orang terjerumus sejak pandemi Covid-19.

Di samping itu, UNDP juga memperingatkan bahwa tingkat inflasi yang melonjak telah menyebabkan peningkatan jumlah orang miskin di negara-negara berkembang sebesar 71 juta dalam tiga bulan sejak Maret 2022.

Situasi ini sangat berisiko bagi negara-negara berkembang yang memiliki cadangan fiskal tipis dan tingkat utang negara tinggi, dibarengi kenaikan suku bunga di pasar keuangan global.

Berdasarkan analisis UNDP, naiknya harga komoditas utama sudah berdampak langsung bagi rumah tangga termiskin di 159 negara berkembang.

"Krisis biaya hidup ini membawa jutaan orang ke dalam kemiskinan dan bahkan kelaparan dengan kecepatan yang menakjubkan. Dengan begitu, ancaman peningkatan kerusuhan sosial tumbuh dari hari ke hari," jelas Steiner.

Sri Lanka menghadapi gelombang baru kerusuhan pada Sabtu (9/7), ketika ribuan pengunjuk rasa merangsek masuk kediaman resmi Presiden Gotabaya Rajapaksa dan membakar rumah Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe.

Sebagai tanggapan, Rajapaksa dan Wickremesinghe telah menyatakan kesiapannya untuk mengundurkan diri.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

UPDATE

Tragedi Perlintasan Sebidang

Rabu, 29 April 2026 | 05:45

Operasi Intelijen TNI Sukses Gagalkan Penyelundupan Kosmetik Ilegal dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 05:26

Dedi Mulyadi Sebut ‘Ratu Laut Kidul’ jadi Komut Independen bank bjb

Rabu, 29 April 2026 | 04:59

Jalan Tengah Lindungi Pelaut Tanpa Matikan Usaha Manning Agency

Rabu, 29 April 2026 | 04:48

Terima Penghargaan BSSN, Panglima TNI Dorong Penguatan Pertahanan Siber

Rabu, 29 April 2026 | 04:25

Banjir Gol Terjadi di Parc des Princes, PSG Pukul Munchen 5-4

Rabu, 29 April 2026 | 03:59

Indonesia Menggebu Kejar Program Gizi Nasional Jepang

Rabu, 29 April 2026 | 03:45

Suasana Ekonomi Politik Mutakhir Kita

Rabu, 29 April 2026 | 03:28

Diplomasi Pancasila Alat Bernavigasi Indonesia di Tengah Badai Geopolitik

Rabu, 29 April 2026 | 02:59

Ekonom Bantah Logika Capaian Swasembada Pangan Mentan Amran

Rabu, 29 April 2026 | 02:42

Selengkapnya