Berita

Presiden RI Joko Widodo dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin pada 30 Juni 2022/Net

Dunia

Pakar: Naif Jika Berpikir Jokowi Mampu Menghasilkan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina

JUMAT, 01 JULI 2022 | 15:39 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pesimisme terhadap misi perdamaian Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia terus menggema di tengah tidak sedikitnya pujian dan harapan yang mengalir.

Sejumlah pengamat di dalam negeri cukup yakin jika Jokowi memiliki modal yang cukup untuk membantu Rusia dan Ukraina mencapai setidaknya gencatan senjata.

Tetapi pendapat berbeda dimiliki oleh David Engel, seorang diplomat Australia yang saat ini memimpin Australian Strategic Policy Institute (ASPI) Indonesia. Engel merupakan mantan duta besar Australia untuk Meksiko dan dua kali bertugas di kedutaan Australia di Jakarta.


"Penilaian terbaik dari kunjungan Widodo ke Kremlin bahwa dia benar-benar berpikir bisa menengahi bahkan gencatan senjata apalagi dialog, itu adalah naif dan tidak adil," kata Enger, seperti dimuat The Strategist.

Enger mengatakan, meski Jokowi mengatakan misi perdamaian tersebut dilakukan berdasarkan konstitusi, namun pada dasarnya ia adalah pemimpin sebuah negara yang bekerja untuk memenuhi kepentingan Indonesia dan dirinya sendiri. Salah satunya adalah sukses menyelenggarakan KTT G20 di Bali.

Hal itu dibuktikan lewat kunjungannya ke Jerman untuk menghadiri KTT G7. Setelah kunjungan tersebut, upaya negara-negara Barat untuk memblokir KTT G20 karena kehadiran Presiden Vladimir Putin mulai mereda.

Sejauh ini, Indonesia telah menolak menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina. Indonesia juga dinilai memiliki kedekatan yang lebih besar pada Rusia.

"Betapapun adilnya Jokowi, pada dasarnya ia akan melayani kepentingan Rusia jauh lebih banyak daripada kepentingan Ukraina," tambahnya.

Sementara itu, Engel menyebut, Putin sendiri tampaknya memanfaatkan kunjungan Jokowi untuk tujuan propagandanya dan tidak benar-benar memberikan perhatian pada misi perdamaian yang dibawanya.

Sebagai salah satu pengimpor gandum terbesar di dunia, Indonesia memperoleh 25 persen pasokannya dari Ukraina pada 2021. Alhasil, invasi Rusia ke Ukraina sudah tentu mengganggu pasokan Indonesia.

Di samping itu, perang juga telah banyak berdampak pada lonjakan harga pangan hingga energi di Indonesia, yang dikhawatirkan dapat memicu protes yang lebih luas.

"Tujuan utama Widodo di Moskow kemungkinan besar adalah mengakhiri blokade efektif Rusia terhadap ekspor biji-bijian Ukraina," Engel berpendapat.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Purbaya Soal THR Swasta Kena Pajak: Protes ke Bos Jangan ke Pemerintah

Sabtu, 07 Maret 2026 | 17:35

Immoderma Clinic Hadirkan Remee Pro, Teknologi Baru Injector Skinbooster

Sabtu, 07 Maret 2026 | 17:28

Keterlibatan di BoP, Indonesia Jangan Terjebak Langgam Donald Trump

Sabtu, 07 Maret 2026 | 16:54

Ketika Risiko Bisnis Dipidanakan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 16:19

Digelar di Palu, Muswil DPW PPP Sulteng Lancar dan Sesuai Konstitusi

Sabtu, 07 Maret 2026 | 15:35

Komisi I DPR: Pemerintah Harus Konsisten Jalankan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Maret 2026 | 15:13

Maskapai Saudia Mulai Buka Penerbangan Tujuan Dubai

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:59

Perempuan Bangsa Soroti Keselamatan Anak dan Lansia Saat Mudik

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:44

Purbaya Sudah Cairkan THR Pensiunan Rp11,4 Triliun, ASN Pusat Baru Rp3 Triliun

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:26

Pendapatan PGAS Naik Jadi 3,98 Miliar Dolar AS di 2025

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:07

Selengkapnya