Berita

Promo Holywings yang memantik amarah masyarakat/Net

Suara Mahasiswa

Holywings Gratiskan Miras Bagi yang Bernama Muhammad dan Maria: Antara Komedi, Marketing dan Penistaan Agama

OLEH: DIAN FITRIANI*
SABTU, 25 JUNI 2022 | 13:57 WIB

HERAN sekaligus miris, pihak manajemen Holywings mengaku tidak tahu-menahu terkait dengan promosi miras bagi yang bernama Muhammad dan Maria. Hal ini disampaikan dalam surat permintaan maaf terbuka yang diunggah dalam akun Instagram resmi Holywings Indonesia @HolywingsIndonesia, pada Kamis (23/6).

Pihak manajemen mengaku ada kesalahan tanpa sepengetahuan mereka. Kejanggalan tentu ditemukan dari pernyataan "tidak tahu" atas promosi miras yang dinilai menistakan agama, baik dari unsur ketidaktahuan prosedur promosi atau dari unsur ketidaktahuan mereka bahwa promosi tersebut akan menyinggung agama.

Sungguh mengherankan sekaligus miris, sebab penistaan agama sejenis tidak hanya terjadi kali pertama bahkan sudah sekian kalinya Agama menjadi bahan olok-olok di negara yang mayoritas muslim ini.
 

 
Belum sudah keheranan melanda, ironinya beberapa netizen justru berkomentar atas kejadian ini, mengatakan bahwa "sejak kapan miras punya agama?" Atau pun sejak kapan "nama punya agama?".

Lucunya, mereka seolah buta konteks, dalam hal ini mereka mencoba melucu dengan hal-hal yang tidak subtansial, dengan mencoba mengolok-olok apapun yang mereka anggap tidak mewakili simbol agama.

Sebutlah mengolok-olok Arab, jenggot, cadar, kurma dan nama tertentu. Anehnya, mereka tidak menemukan alasan, dari selain banyak nama, kenapa mesti Muhammad dan Maria?
 
Memang penistaan agama yang marak tidak akan pernah sudah, justru disambut dengan ejekan dan olokan yang menjadi-jadi. Padahal hal sejenis sudah lama terjadi, dengan menjadikan simbol tertentu untuk disandingkan dengan hal yang kontradiksi guna membangun persepsi baru dan melahirkan konteks.

Sebutlah dalam konsep komunikasi signifikasi, manusia akan membangun persepsi dengan menyerap dan mengenali sesuatu melalui tanda-tanda yang mudah di indera.

Maka menyandingkan Babi dengan kurma dan mempermainkan konsep halal-haram seperti yang pernah dilakukan oleh komedian Tretan Muslim dan Coki Pardede dalam sebuah video unggahannya di sosial media, atau video game komersil yang menyandingkan sorban dengan bom untuk membangun konteks Islam teroris, atau hal yang paling terbaru yakni gratiskan miras untuk yang bernama Muhammad dan Maria, tentu merupakan penistaan agama.
 
Ironisnya, ada saja segelintir orang yang membela, menganggap bahwa ini tidaklah salah, bahkan teknik marketing yang diperbolehkan juga komedian yang lucu dengan aliran dark jokes yang laku di barat sana.

Naifnya, mereka tak sadar bahwa mereka baru saja mengolok-olok agama dan menolak konsep signifikasi komunikasi yang melekat pada apa yang mereka lakukan, baik mereka sebagai pelaku atau pun yang menormalisasi penistaan tersebut.
 
Padahal menyinggung SARA untuk meraih panggung atau menjadikannya sebagai teknik marketing untuk meraih untung bukanlah hal yang dibenarkan.

Pasalnya tindakan mereka tidak lagi memikirkan keselarasan narasi dengan akal, hanya memikirkan keindahan diksi yang menormalisasi ketersinggungan orang, karena dinilai melecehkan bahkan menistakan. Namun mirisnya justru menjadikan hal tersebut sebagai pencapaian.
 
Ketersinggungan sebagian pihak justru dianggap sebagai komoditas, yang menjadi bahan bakar untuk terus berbuat yang semisal, anehnya, sudah berulangkali terjadi di tanah air, penegak hukum bak lari tenggelam bersama lautan tawa dan olokan para penista agama, sunyi, hilang rimbanya.

Ditambah pada peristiwa promosi miras di Holywings ini, terdapat fakta bahwa terdapat dua publik figur yang kini sebagai pemegang saham di Holywings. Selebritis Nikita Mirzani dan pengacara kondang Hotman Paris.

Entah apakah penegak hukum akan berani menunjukkan taringnya berhadapan dengan kedua public figur tersebut atau lagi-lagi kasus ini hilang ditelan masa, menjadi sejarah yang berulang.
 
Memang keakraban peristiwa nyeleneh ini hadir karena kebebasan berekspresi dan narasi yang tidak dikontrol bahkan dianggap sebagai sebuah identitas dan realitas yang tak perlu dihindari. Padahal tentu menyulut amarah bahkan merugikan pihak lain.

Bila pihak yang dirugikan marah, justru pihak yang dirugikan inilah yang akan dituding radikal, intoleran, dan closed minded. Maka hal ini terjadi akibat neoliberalisme yang meradang dan menjamah negeri ini, menjadi tontonan dan tuntunan masyarakat bahkan anak-anak, bukan mustahil akan menjadi tuntutan hidup di negeri yang penuh kebebasan tak berarti.

Bebas tapi mengekang. Di satu sisi kebebasan tak terkontrol dan tak punya orientasi merusak pemikiran dan perilaku, tapi di sisi yang lain negara mengekang para kritikus dan narasi tertentu yang menuntut keadilan.
 
Entah kejadian ini apakah memiliki hubungan erat dengan merebaknya Islamophobia? Ataukah memang betul bahwa ini merupakan ketidaksengajaan pihak manajemen?

Yang jelas miras haram bagi muslim dan nama Muhammad adalah Nabi terakhir dalam terminologi Islam, sehingga menyandingkannya merupakan penistaan.
 
Wallahu a'lam bi sowab.

Mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP UMJ

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya