Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Ekonom Dorong Pemerintah Lakukan Transformasi Pangan Hadapi Ancaman Krisis Global

SABTU, 18 JUNI 2022 | 00:26 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia diprediksi akan menghadapi krisis pangan global akibat dari pandemi Covid-19 dan pengaruh invasi Rusia ke Ukraina.

Selain itu, banyak produsen pangan dilanda kekeringan, sehingga harga pangan seperti jagung dan kedelai mulai beranjak naik dan ancaman itu juga akan dihadapi bangsa Indonesia.

"Rusia dan Ukraina, sebagai produsen energi yang besar, konflik dua negara Eropa Timur ini berhasil melonjakkan harga energi, khususnya minyak bumi dan gas. Selain itu, pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir ini membuat sistem logistik global ikut terganggu," kata Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bustanul Arifin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/6).


Menurut Guru Besar Universitas Negeri Lampung (Unila) itu, sistem pangan perlu ditransformasi oleh Pemerintah Indonesia agar mampu mencapai  outcome ketahanan pangan, dan kesehatan lingkungan secara umum. Sistem pangan ke depan, harus lebih komprehensif dan berkelanjutan meliputi aktivitas produksi, pengolahan, distribusi, perdagangan, hingga konsumsi pangan.

“Hasil akhir dari sistem pangan tersebut ialah ketahanan pangan yang meliputi dimensi ketersediaan, akses, serta pemanfaatan pangan. Sistem pangan juga membawa hasil outcome berupa, kesejahteraan sosial yang meliputi lapangan kerja, tingkat penghasilan, modal manusia, modal sosial, modal politik,” ujar Bustanul Arifin.

Dijelaskan Bustanul Arifin, dalam konteks Presidensi G-20, Indonesia telah berkomitmen melaksanakan sistem pangan berkelanjutan dan tangguh atau dikenal dengan istilah Sustainable and Resilient Food Systems (SRFS). SRFS merupakan suatu strategi tansformasi untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, untuk dapat berkontribusi pada pola makan sehat dan seimbang.

“SRFS juga sangat kompatibel dengan pengentasan kemiskinan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, konservasi ekosistem, mitigasi, dan adaptasi perubahan iklim,” jelasnya.

Sistem pangan dan pemanfaatan lahan berkelanjutan akan mampu memulihkan tanah dan lahan terdegradasi kembali ke alam, serta ekosistem yang menghasilkan tambahan produktivitas. Strategi transformasi seperti ini saling berhubungan sehingga solusinya juga perlu dikembangkan secara terintegrasi.

Lebih lanjut Bustanul Arifin mengatakan, peningkatan produktivitas pangan dan pertanian melalui penggunaan input kimia yang lebih rendah dan pemberdayaan petani kecil.

“Langkah peningkatan produktivitas, tidak hanya relevan untuk pangan pokok beras, jagung, minyak nabati, tapi juga hortikultura bernilai tinggi,” paparnya.

Selain itu, perubahan teknologi pertanian termasuk bioteknologi modern dan bahkan produk rekayasa genetika (PRG) atau genetically modified organism (GMO). Namun, lanjut Bustanul Arifin, tidak banyak pihak atau pengambil kebijakan yang siap mengadopsi dan mengembangkan produk rekayasa genetika untuk sistem pangan-pertanian karena sikap kekhawatiran yang berlebihan.

Perbaikan kesehatan tanah (soil health) untuk mendukung strategi sistem pangan tangguh dan berkelanjutan (SRFS), misalnya, melalui pengembangan pertanian organik, kombinasi, serta keseimbangan penggunaan pupuk organik dan lainnya.

“Transformasi sistem pangan amat diperlukan untuk berkontribusi strategi antisipasi dan mitigasi menghadapi krisis pangan yang sebenarnya,” tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya