Berita

Tentara Rusia/Net

Dunia

Banyak Tentara Rusia Tewas Diduga karena Tak Diberi Peralatan yang Mumpuni

MINGGU, 05 JUNI 2022 | 13:05 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sejak Rusia meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai operasi militer khusus ke Ukraina pada 24 Februari lalu, Kyiv mendapatkan banyak bantuan peralatan militer canggih dari sekutu-sekutunya.

Tetapi di sisi lain, pasukan Rusia yang dikerahkan oleh Presiden Vladimir Putin ke Ukraina dilaporkan tidak dibekali dengan peralatan yang cukup mumpuni. Alhasil banyak dari mereka harus meregang nyawa.

Seorang tentara Rusia yang selamat selama pertempuran di Ukraina bagian timur mengungkap bagaimana dua brigade Rusia hancur, salah satunya Brigade ke-64 yang dikenal telah melakukan pelecehan seksual dan membunuh ratusan orang di Bucha.


Pertama kali diungkap oleh blogger pro-perang Rusia, tentara yang selamat itu mengatakan Brigade ke-64 dan Brigade ke-38 ditarik dari sekitar Kyiv untuk mengambil alih Izyum, sebuah kota besar di wilayah Kharkiv, pada bulan April.

Tetapi tentara itu mengungkap mereka tidak dibekali oleh peralatan yang mumpuni, bahkan tidak diberi sekop untuk menggali parit atau sistem radio elektronik modern. Akibatnya mereka lebih rentan terhadap serangan balasan Ukraina.

“Musuh, dilengkapi dengan alat komunikasi modern dan menggunakan drone secara bebas dan dalam skala besar, termasuk drone komersial, memberikan pukulan besar kepada pasukan kami,” kata tentara tersebut, seperti dikutip Stuff.

Menurut tentara itu, dari sekitar 1.700 tentara yang dikerahkan, hanya tersisa kurang dari 100 orang pada akhir pertempuran.

“Angkatan Darat ke-35, yang bertempur di hutan dekat Izyum, meminta saya untuk menyampaikan pesan bahwa, secara umum, tugas menghancurkan pasukan mereka sendiri berhasil diselesaikan oleh para komandan tentara. Tentara hampir habis,” kata prajurit itu dengan sinis.

Intelijen Barat memperkirakan lebih dari 15.000 tentara Rusia tewas dalam tiga bulan pertempuran. Itu lebih banyak daripada selama 10 tahun perang Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an.

Unggahan blog tersebut dilaporkan telah menghilang, tetapi penulis anonimnya telah mengunggahnya kembali di akun Telegramnya. Tidak jelas kapan transkrip itu dibuat tetapi pertama kali diterbitkan pada 3 Juni.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya