Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Obat-obatan Makin Langka, Dokter Sri Lanka: Ini Hukuman Mati Bagi Para Pasien

SENIN, 23 MEI 2022 | 13:28 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kelangkaan obat-obatan di Sri Lanka yang dipicu krisis ekonomi bisa menyebabkan banyaknya kematian di antara pasien-pasien yang memiliki penyakit parah.

Peringatan itu disuarakan oleh jajaran dokter di Sri Lanka yang terpaksa menunda prosedur penyelamatan karena tidak memiliki obat-obatan yang diperlukan.

Sri Lanka sendiri mengimpor lebih dari 80 persen pasokan medisnya. Namun cadangan devisa yang habis membuat Sri Lanka tidak bisa membeli obat-obatan.


Situasi ini membuat nyawa sejumlah pasien terancam, termasuk pasien kanker.

Di rumah sakit kanker Apeksha di pinggiran Kolombo, dokter merasa semakin tidak berdaya karena harus menghentikan tes dan menunda prosedur, termasuk operasi kritis.

"Sangat buruk bagi pasien kanker. Kadang-kadang, di pagi hari kami merencanakan beberapa operasi (tetapi) kami mungkin tidak dapat melakukannya pada hari itu karena (persediaan) tidak ada," kata Dr Roshan Amaratunga, seperti dimuat Reuters.

"Jika situasinya tidak segera membaik, beberapa pasien akan menghadapi hukuman mati," sambungnya.

Pemerintah mengungkap, India, Jepang, dan donor multilateral telah berusaha memberikan bantuan pasokan medis, tetapi bisa memakan waktu hingga empat bulan hingga pasokan tiba.

Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi terparah sejak merdeka pada 1948. Krisis disebabkan oleh pandemi Covid-19 ditambah utang dan perang di Ukraina.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya