Berita

Ilustrasi lepas masker/Net

Politik

Kebijakan Pelonggaran Masker Perlu Disosialisasikan Masif agar Tidak Terjadi Miskomunikasi

RABU, 18 MEI 2022 | 11:27 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memberikan kelonggaran pemakaian masker di ruang publik, diapresiasi banyak kalangan masyarakat.

Namun demikian, anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS, H. Alifudin tetap ingin agar kebijakan tersebut diiringi dengan target capaian vaksinasi yang terukur.

Terpenting lagi, kebijakan ini perlu dipancarluaskan agar tidak terjadi salah komunikasi, khususnya di daerah.


"Kami apresiasi atas kebijakan pemerintah bahwa di ruang terbuka diperbolehkan lepas masker, tapi kami minta tolong pemerintah harus menginformasikan atau mengkampanyekan hal ini secara masif,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (18/5).

Alifudin menambahkan bahwa sosialisasi harus secara gencar dilakukan seperti awal pendemi Covid-19 menerapkan protokol kesehatan, agar kebijakan pemerintah tersebut tidak mis-information atau ditangkap berbeda oleh publik.

"Yang kedua, soal vaksinasi yang harus digencarkan, agar warga sudah vaksinasi lengkap dan aparatur penegak harus tegas serta melakukan pendekatan persuasif,” tutur Alifudin.

Politikus PKS ini juga menilai persoalan data harus dianalisa dengan tepat, agar membuat status endemi ini bisa tepat.

“Covid-19 ini melalui udara kan jadi harus juga berhati hati, dan kita harus tetap melakukan serta menjaga kebiasaan hidup sehat dan bersih, seperti cuci tangan pakai sabun, dan kebiasaan gerakan hidup bersih,” tegas Alifudin.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mencabut kebijakan wajib masker kepada seluruh masyarakat di Indonesia. Jokowi mengatakan kebijakan ini diberlakukan karena kasus Covid-19 di Indonesia semakin terkendali.

"Dengan memperhatikan kondisi saat ini, di mana penanganan Covid di Indonesia yang semakin terkendali, maka perlu saya sampaikan bahwa pemerintah memutuskan melonggarkan kebijakan pemakaian masker," kata Jokowi saat jumpa pers daring, Selasa (17/5).

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya