Berita

Ilustrasi /Net

Dunia

India Diprediksikan IMF Jadi Negara yang Miliki Pertumbuhan Ekonomi Terbesar di Dunia, 2 Kali Lipat dari China

KAMIS, 05 MEI 2022 | 19:01 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Melihat pertumbuhan ekonomi global di era pandemi ini, India diprediksikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi kekuatan ekonomi global dengan pertumbuhan tercepat di dunia untuk dua tahun berturut-turut, tumbuh hampir dua kali lipat dari perkiraan tingkat untuk China.

IMF mengatakan ekonomi India diproyeksikan tumbuh 8,2 persen tahun ini dibandingkan dengan 4,4 persen yang dipatok untuk China. Namun perkiraan itu merosot menjadi 7,2 persen setelah beberapa perhitungan lebih lanjut per Rabu ini (4/5).

Namun menurut Kepala Penasihat Ekonomi India V. Anantha Nageswaran, Ia mengatakan pertumbuhan India diperkirakan akan berada di kisaran 7 hingga 8,5 persen meskipun dilanda ketidakpastian global.


"Jangkauan hasil cukup lebar. Lebih luas dari yang seharusnya dan itu membuat pengambilan keputusan menjadi lebih berbahaya. Banyak keberuntungan diperlukan untuk melakukannya dengan benar," katanya pada sebuah wawancara kepada Economic Times, Kamis (5/5).

Sesuai Survei Ekonomi Kementrian Keuangan India, ekonomi India diperkirakan akan tumbuh sebesar 8 hingga 8,5 persen pada awal fiskal 1 April.

Namun, para ekonom memperingatkan bahwa ketidakpastian yang diciptakan oleh krisis Ukraina menimbulkan tantangan besar untuk mempertahankan momentum itu, karena India juga bergulat dengan harga bahan bakar dan pangan yang tinggi, sama seperti negara lainnya.

Tantangan lain yang dihadapi India adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Walaupun pekerjaan dan pendapatan kembali meningkat di beberapa sektor, seperti industri IT, jutaan orang yang kehilangan mata pencaharian selama pandemi masih berjuang.

"Buktinya cukup jelas bahwa beberapa sektor ekonomi tumbuh jauh lebih cepat daripada yang lain," kata Ravi Srivastava, direktur Pusat Studi Ketenagakerjaan di Institut Pembangunan Manusia di New Delhi, seperti dimuat VOA, Rabu (4/5).

"Ini jelas memiliki konsekuensi, yakni lapangan kerja dan pendapatan masih belum pulih. Hanya segmen kecil yang diuntungkan," tambahnya.

Ternyata, meskipun sektor IT dinyatakan yang paling diuntungkan oleh benturan pandemi disana, justru mereka telah melihat tingkat atrisi lebih dari 20 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Dengan kata lain 20 persen pegawai dari perusahaan yang dimaksud telah berhenti bekerja disana dan mereka tidak diganti oleh karyawan baru.

Kalau dilihat dari sisi lapangan pekerjaan di India, sektor formal hanya menyumbang sekitar 10 persen dari pekerjaan disana.

Sebagian besar mata pencaharian diciptakan di sektor informal yang luas di negara itu, yang terpukul keras selama pandemi.

Berita baiknya, India melihat tanda-tanda kebangkitan ketenaga-kerjaan informal ketika kota-kota mencabut semua pembatasan. Pemilik toko kecil hingga pengemudi taksi telah mengatakan bahwa pekerjaan mereka kini berlangsung kembali.

Dhan Singh Negi, yang mencari nafkah dengan menyewakan mobilnya ke sebuah perusahaan, mengatakan dalam beberapa bulan terakhir sekitar 80 persen dari bisnis pra-pandemi telah dihidupkan kembali.

"Saya kebanyakan menjemput klien perusahaan saya dari bandara dan membawa mereka keliling kota. Dalam dua bulan terakhir, kondisi kami sudah bagus," ujar Negi.

Negi telah kembali ke desanya setelah hampir satu tahun, layaknya seperti 100 juta pekerja rantau lainnya yang kembali ke desa mereka saat pekerjaan di kota mengering dua tahun lalu ketika pandemi dimulai.

Sekarang, semua segmen ekonomi India sudah kembali berjalan, dimana sebagian besar kantor telah mulai menarik karyawan. Itu terjadi baik bisnis kantoran maupun pribadi.

Ada juga infrastruktur transportasi umum seperti penerbangan, kereta api dan bus kini penuh sesak, menandakan aktivitas ekonomi sudah berjalan dengan baik.

Meskipun pemulihan ekonomi terlihat lancar, jumlah para pemburu lapangan kerja di bawah program pekerjaan pro-miskin tetap tinggi, yang menurut para ekonom merupakan tanda berlanjutnya tekanan.

Lebih dari 253 juta rumah tangga terdaftar tahun lalu, menurut angka pemerintah per April ini, jauh lebih tinggi dari 186 juta pada 2019 sebelum pandemi.

Kemudian mengingat kisah Negi, jumlah pekerja di sektor pertanian juga melonjak karena para perantau yang bekerja di kota kembali ke usaha pertanian kecil mereka. Pemerintahan India menyebutnya sebagai "migrasi terbalik."

"Data menunjukkan bahwa besarnya persentase yang telah keluar dari pekerjaan reguler menjadi beberapa bentuk wirausaha informal," kata Srivastava, seorang ekonom di India.

"Jadi kualitas pekerjaan hari ini lebih buruk daripada dua tahun lalu dan ada tonjolan dalam wirausaha pedesaan,” pungkasnya.

Jadi bisa dikatakan, rebound ekonomi India ini memiliki arti yang berbeda bagi orang dan institusi ekonomi yang berbeda.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya