Berita

Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, Kaltim, Profesor Budi Santosa Purwokartiko dan unggahan statusnya/Net

Politik

ITK Beri Klarifikasi Soal Status Budi Santosa, Warganet: Enak Bener Mau Cuci Tangan!

MINGGU, 01 MEI 2022 | 08:28 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Status Facebook yang diunggah Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, Kaltim, Profesor Budi Santosa Purwokartiko tengah jadi buah bibir warganet. Alasannya, karena unggahan itu dinilai mengandung unsur SARA.

Status itu dibuat Budi Santosa pada tanggal 27 April 2022. Menjadi kontroversi lantaran Budi Santosa menyebut kalimat “tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun”.

Setelah ramai jadi perbincangan, ITK melalui laman resminya, itk.ac.id dan laman Twitter @itk_official_, memberi tanggapan. Mereka menjelaskan bahwa status Budi Santosa adalah tulisan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan jabatan sebagai rektor ITK.


“Oleh karena itu, mohon pemberitaan dan komentar lebih lanjut baik oleh media maupun para netizen tidak mengaitkan dengan institusi ITK, dan awak media atau para netizen dapat langsung berkomunikasi dengan beliau. Demikian untuk mendapatkan perhatian dari media dan para netizen,” begitu penggalan dari tanggapan ITK seperti dikutip pada Minggu (1/5).

Baik di laman resmi maupun di Twitter, tanggapan ITK ini banjir komentar dari netizen. Mayoritas mengungkit agar Budi Santosa diberi sanksi

“Mau nggak mau ya terkait lah. Buktinya kalian sampai buat klarifikasi ini, kan tanda kalian terkait. Kalau nggak mau terkait kasih sanksi, pecat dll. Baru nggak ada kaitan apapun ucapan orang itu,” tutur akun @zarazettirazr.

Komentar Tutur Prazz tidak jauh berbeda. Dia bahkan Budi Santosa adalah rektor yang rasis.

“Enak bener mau cuci tangan. Si profesor rasis itukan masih ada keterkaitan dengan ITK, kecuali kalau dia mengundurkan diri atau dipecat. Lain soal,” tuturnya.

“Yahaha gak beran nurunin rektornya,” sambar akun @E32bmw1

Sementara akun @NisyahSyaras mewanti-wanti kepada orang tua untuk tidak menguliahkan anak ke universitas yang dipimpin rektor Budi Santosa.

Adapun status Facebook yang ditulis oleh Prof Budi dan menjadi kontroversi karena dinilai bermuatan SARA adalah sebagai berikut:

Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa.

Mereka adalah anak-anak pintar yang punya kemampuan luar biasa. Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5 persen sisi kanan populasi mahasiswa.

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8, dan 3.9.

Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8.5, bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Luar biasa.

Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen.

Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya.

Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagaianya.

Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang. Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek.

Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind.

Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.

Saya hanya berharap mereka nanti tidak masuk dalam lingkungan yang, membuat hal yang mudah jadisulit, bekerja dari satu rapat ke rapat berikutnya tanpa keputusan, mementingkan kulit daripada isi, menyembah Tuhan tapi lupa pada manusia, menerima gaji dari negara tapi merusak negaranya, Ingin cepat masuk surga tapi sakit tetap cari dokter dan minum obat, menggunakan KPI langit sementara urusannya masih hidup di dunia, Semoga tidak tercemar
.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya