Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Ekonomi RI Potensi Oleng Gegara Krisis Global, Ekonom: Secara Fundamental RI Cuma Diuntungkan Booming Komoditas

SABTU, 23 APRIL 2022 | 13:35 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Perang Rusia dan Ukraina mengakibatkan tekanan ekonomi semakin tinggi, dan harga komoditas menjadi meningkat tajam. Hal ini ikut diwanti-wanti Bank Indonesia akan berdampak pada perekonomian nasional.

Sependapat dengan BI, Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios), Bhima Yudhistira menilai, imbas krisis perekonomian global yang sudah dirasakan sejumlah negara akan berpengaruh ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Memang tekanan ekonomi semakin besar. Bahkan diperkirakan terjadi resesi ekonomi di AS pada 2023 yang juga berdampak ke negara berkembang," ujar Bhima kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (23/4).


Secara struktur ekonomi, Bhima melihat Indonesia cenderung mengandalkan konsumsi. Akan tetapi berdasarkan pengamatannya selama beberapa bulan ke belakang, justru indikator ini menjadi suatu sebab yang akan memperparah keadaan.

"Masalah ikut diperparah dengan lemahnya tingkat konsumsi rumah tangga, dan kinerja belanja pemerintah yang kurang fokus," katanya.

Selain konsumsi, Bhima juga menyebutkan indikator lainnya berupa peningkatan harga komoditas Indonesia. Namun sayangnya, faktor penunjang pertumbuhan ekonomi nasional ini hanya sementara sifatnya.

"Secara fundamental sebenarnya kita hanya diuntungkan dengan booming komoditas, itu pun bisa sangat temporer," imbuhnya menegaskan.

Dalam acara diskusi virtual pada Jumat kemarin (22/4), Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengistilahkan kondisi ekonomi global sekarang ini sebagai yang terparah, karena pandemi Covid-19 ditambah perang Rusia dan Ukraina.

Bentuk nyata tantangan yang dihadapi sejumlah negara dikarenakan kebijakan normalisasi kebijakan moneter The Fed dan beberapa bank sentral lainnya menaikkan suku bunga acuan yang cukup agresif, sebagai respons dari tekanan inflasi yang berasal dari permintaan domestik yang terpendam, kenaikan harga komoditas, dan harga pangan akibat konflik Rusia dan Ukraina.

Selain itu, Badan Moneter Dunia (IMF) juga telah mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari awalnya berada pada angka 4,4 persen menjadi 3,6 persen.

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Miliki Segudang Prestasi, Banu Laksmana Kini Jabat Kajari Cimahi

Jumat, 26 Desember 2025 | 05:22

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

UPDATE

Lima Penyidik Dipromosikan Jadi Kapolres, Ini Kata KPK

Senin, 05 Januari 2026 | 12:14

RI Hadapi Tantangan Ekonomi, Energi, dan Ekologis

Senin, 05 Januari 2026 | 12:07

Pendiri Synergy Policies: AS Langgar Kedaulatan Venezuela Tanpa Dasar Hukum

Senin, 05 Januari 2026 | 12:04

Pandji Pragiwaksono Pecah

Senin, 05 Januari 2026 | 12:00

Tokoh Publik Ikut Hadiri Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:58

Tak Berani Sebut AS, Dino Patti Djalal Kritik Sikap Kemlu dan Sugiono soal Venezuela

Senin, 05 Januari 2026 | 11:56

Asosiasi Ojol Tuntut Penerbitan Perpres Skema Tarif 90 Persen untuk Pengemudi

Senin, 05 Januari 2026 | 11:48

Hakim Soroti Peralihan KUHAP Baru di Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:44

Akhir Petrodolar

Senin, 05 Januari 2026 | 11:32

Kuba Siap Berjuang untuk Venezuela, Menolak Tunduk Pada AS

Senin, 05 Januari 2026 | 11:28

Selengkapnya