Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Net

Politik

Sri Mulyani Andalkan Perlinsos Hadapi Imbas Kenaikan Harga Energi dan Pangan Global

SABTU, 16 APRIL 2022 | 22:40 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Tensi global yang makin memanas selama beberapa bulan ke belakang akibat perang Ukraina dan Rusia berimbas pada kondisi perekonomian global dan termasuk banyak negara di dunia.

Pemerintah Indonesia mengklaim, kenaikan harga energi hingga pangan di dalam negeri adalah dampak nyata yang dirasakan dari kecamuk global yang terjadi saat ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemulihan ekonomi dunia masih sangat dini dan rapuh akibat peperangan yang terjadi, ditambah pukulan pandemi Covid-19 yang belum berakhir.


"Sekarang dihadapi tantangan yang semakin kompleks. Perang yang terjadi di Ukraina telah dan masih merusak rantai global di bidang energi pangan dan komoditas strategis," ujar Sri Mulyani dalam jumpa pers pada Sabtu (16/4).

Karena hal tersebut, lanjut Sri Mulyani, akhirnya muncul kemungkinan lonjakan harga komoditas dan tekanan inflasi di negara maju dan perkembang. Bahkan menurutnya, respon moneter di negara maju juga akan menimbulkan dampak-dampak sangat besar pada perekonomian global.

"Dunia dihadapkan pada risiko baru yang sangat tinggi. Hal ini tercermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang direvisi ke bawah secara cukup tajam," tuturnya.

Berdasarkan catatan yang dia terima, OECD merevisi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2022 dari 4,5 persen menjadi hanya 3,5 persen. Kemudian Bank Dunia merevisi dari 4,4 persen menjadi 3,5 persen. Sementara IMF merevisi dari 4,9 persen menjadi 4,4 persen,.

"Dan ini akan direvisi lagi setelah terjadi perang Ukraina. Indonesia sendiri terus menjaga kondisi masyarakat dan perekonomian kita dari berbagai pukulan melalui berbagai kebijakan," katanya.

Dalam beberapa pekan ke belakang, pemerintah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan yang menyulut protes masyarakat. Misalnya, soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) RON 92 atau Pertamax dari seharga Rp 9.000 per liter menjadi Rp 12.500 per liter.

Selain itu, pemerintah juga memberikan keleluasaan kepada pengusaha minyak goreng untuk menentukan sendiri harga jual eceran minyak goreng. Alasannya, bahan bakunya yakni CPO atau crude palm oil, mengalami pengurangan di tengah permintaan yang banyak.

Dari beberapa contoh kasus tersebut, yang diklaim sebagai imbas kondisi global, Sri Mulyani memastikan langkah pemerintah untuk mengatasinya melalui jaring pengaman sosial yang diberikan kepada masyarakat miskin.

"Menggunakan instrumen APBN untuk mengelola shock, pukulan yang mengancam kesehatan, kesejahteraan masyarakat dan mengancam perekonomian kita. Pemerintah melanjutkan kebijakan fiskal kita yang bersifat suportif ekspansif terarah namun terukur," ucapnya.

Kebijakan fiskal yang bersifat suportif ekspansif terarah dan terukur itu, disebutkan Sri Mulyani, sebagai instrumen countercyclical untuk meningkatkan konsumsi masyarakat yang menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi.

"Pertumbuhan ekonomi didorong lebih cepat melalui penebalan perlinsos dan bansos, dengan memberikan tambahan bansos ke masyarakat yang paling rentan, serta juga kepada UMKM pedagang kaki lima di bidang pangan untuk menghadapi kenaikan harga pangan dunia," tandasnya.

Untuk program perlinsos ini, pemerintah menyiapkan total Rp 431,5 triliun yang di antaranya untuk penyaluran PKH kepada 10 juta KPM senilai total Rp 28,7 triliun, kartu sembako bagi 18,8 juta kelompok penerima dengan anggaran sebesar Rp 45,1 triliun, serta subsidi BBM, listrik dan LPG dengan anggaran Rp 194,3 triliun.

Selain itu, ada bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk 96,8 juta penerima dengan anggaran Rp 46,5 triliun, program Kartu Pra Kerja bagi 2,9 juta orang dengan anggaran Rp 11 triliun, dan yang terakhir BLT Minyak Goreng bagi 20,5 juta keluarga BPNT dan PKH, serta 2,5 juta PKL yang berjualan makanan gorengan.

"Ini adalah bantalan sosial yang menggunakan APBN secara langsung, uang kita, uang APBN, uang masyarakat," demikian Sri Mulyani.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya