Berita

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa/Net

Dunia

Dua Tahun Diberlakukan, Afrika Selatan Cabut Keadaan Bencana Nasional Covid-19

SELASA, 05 APRIL 2022 | 09:16 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Afrika Selatan akhirnya mencabut keadaan bencana nasional yang telah diberlakukan selama 750 hari untuk memerangi pandemi Covid-19.

Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan, keadaan bencana nasional akan dihentikan pada Senin tengah malam (4/4) waktu setempat. Itu dilakukan mengingat situasi Covid-19 di Afrika Selatan sudah mereda.

"Selama pandemi belum berakhir, dan virus masih ada di antara kita, kondisi ini tidak lagi mengharuskan kita tetap dalam keadaan bencana nasional," kata Ramaphosa dalam pidatonya yang disiarkan di televisi pada Senin, seperti dimuat ANI News.


Ia mengatakan, penanganan Covid-19 nantinya akan dikelola dalam kerangka UU Kesehatan Nasional.

Selain itu, sejumlah ketentuan transisi tertentu juga akan tetap berlaku selama 30 hari setelah pencabutan keadaan bencana nasional untuk memastikan tindakan pencegahan kesehatan masyarakat yang diperlukan dan layanan lainnya tidak terganggu.

Beberapa ketentuan tersebut termasuk memakai masker di ruang publik dalam ruangan, pembatasan jumlah orang untuk tempat di dalam dan luar ruangan, hingga bukti vaksinasi atau tes PCR negatif untuk pelancong internasional.

Bantuan sosial pemerintah sebesar 350 rand untuk warga juga akan terus dilanjutkan.

Afrika Selatan telah menjadi negara Afrika yang paling parah terkena dampak selama pandemi. Angka yang dirilis oleh Institut Nasional untuk Penyakit Menular pada Senin menunjukkan negara itu telah mencatat 3.667.560 kasus dan 100.052 kematian.

Deklarasi keadaan bencana nasional sendiri diberlakukan pada Maret 2020. Tujuannya agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi pandemi.

Saat ini, Ramaphosa mengatakan, Afrika Selatan telah memasuki babak baru dalam pandemi Covid-19.

"Meskipun kami mencatat jumlah infeksi yang jauh lebih tinggi pada gelombang keempat daripada di masing-masing gelombang sebelumnya, ada kasus penyakit parah, rawat inap, dan kematian yang relatif lebih sedikit," ucapnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya