Berita

Jurubicara Kementrian Luar Negeri China, Wang Wenbin/Net

Dunia

Tindakan Balasan, China Batasi Visa Pejabat AS

JUMAT, 01 APRIL 2022 | 04:35 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

China akan memberlakukan pembatasan visa pada pejabat Amerika Serikat, sebagai tindakan balasan atas aksi AS yang membatasi visa pejabat China. Sebelumnya, pembatasan itu didasari oleh tuduhan pada China melakukan pelanggaran HAM kepada etnis Uighur di Xinjiang pada 21 Maret.

Jurubicara Kementerian Luar Negeri, Wang Wenbin mengecam langkah AS itu pada Kamis (31/3). Ia mengatakan langkah pembalasan China ini adalah langkah yang diperlukan.

“AS telah memfitnah kami dengan dalih masalah hak asasi manusia, dan menggunakannya sebagai alasan untuk ikut campur dalam urusan internal China, mencoreng citra China, dan menekan pejabat China,” tegas Wenbin, dikutip oleh South Morning China Post.


“Tindakan ini tidak memiliki dasar moral dan melanggar hukum internasional beserta norma-norma dasar hubungan internasional. China dengan tegas menentang ini,” tambahnya.

Wenbin tidak memberikan detail lebih lanjut terkait pembatasan visa itu, namun Ia mengatakan, China harus menghukum “mereka yang telah mengarang kebohongan tentang masalah hak asasi manusia”.

Tindakan China itu membalas pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken pada 21 Maret, bahwa AS telah membatasi visa beberapa pejabat China karena keterlibatan mereka dalam tindakan represif terhadap kelompok etnis dan agama minoritas, tanpa menyebut nama mereka yang akan terpengaruh.

“Pelaku pelanggaran hak asasi manusia harus terus menghadapi konsekuensi. Amerika Serikat telah mengambil tindakan untuk memberlakukan pembatasan visa pada pejabat China. Karena mereka mencoba untuk mengintimidasi, melecehkan, dan menindas para pembangkang dan pembela hak asasi manusia di dalam dan di luar China,” cuit Blinken di akun Twitter resminya, pada hari berikutnya.

Pada tahun 2019, pemerintahan mantan presiden Donald Trump memberlakukan pembatasan serupa pada pejabat China. Sikap itu dilakukan menyusul tuduhan bahwa Beijing telah mengunci sekitar satu juta warga Uighur dan anggota kelompok mayoritas Muslim lainnya di kamp-kamp interniran.

China pada periode itu, membalas dengan cara yang sama, melarang empat anggota Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS untuk mengunjungi China.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

UPDATE

Polri Evaluasi Penggunaan Senpi Buntut Kasus Iptu N di Makassar

Jumat, 06 Maret 2026 | 01:58

Luhut Usul Pembentukan Satgas Khusus Imbas Konflik Israel-Iran

Jumat, 06 Maret 2026 | 01:39

Selebgram Klaim Dijadikan Tersangka dan Ngadu ke Kapolri

Jumat, 06 Maret 2026 | 01:10

Perang Timur Tengah Siap-siap Bikin APBN Babak Belur

Jumat, 06 Maret 2026 | 00:55

Warga Temukan Bayi Mungil Ditemani Sepucuk Surat di Gerobak Nasi Uduk

Jumat, 06 Maret 2026 | 00:31

Iran Pertegas Kembali Fatwa Haramkan Senjata Nuklir

Jumat, 06 Maret 2026 | 00:08

Berikut Jadwal One Way hingga Contra Flow di Tol Trans Jawa saat Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 23:45

Luhut: Spirit Rakyat Iran Tidak Pernah Goyang

Kamis, 05 Maret 2026 | 23:21

Rapimnas IKA-PMII, Bedah Dampak Gejolak Timteng Terhadap Ekonomi RI

Kamis, 05 Maret 2026 | 23:05

50 Lansia Dhuafa di Depok Terima Santunan Ramadan

Kamis, 05 Maret 2026 | 22:58

Selengkapnya