Berita

CEO RMOL Network, Teguh Santosa dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva dalam diskusi di Kopi Timur pada 30 Maret 2022/RMOL

Dunia

Rusia Akan Hentikan Operasi Militernya Jika Ukraina Penuhi Hal Ini

KAMIS, 31 MARET 2022 | 11:25 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Rusia hanya akan menghentikan "Operasi Militer Khusus" ke Ukraina jika target atau tujuannya telah tercapai.

Ketika meluncurkan operasi tersebut pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri menyebut pihaknya berusaha melakukan demiliterisasi dan denazifikasi di Ukraina.

Di samping itu, operasi tersebut juga dikatakan sebagai bagian dari upaya melindungi rakyat Donetsk dan Luhansk setelah memisahkan diri dari Ukraina.


Setelah lebih dari satu bulan operasi dilakukan, belum ada sinyal damai yang dirasakan, termasuk dalam proses dialog yang beberapa kali berlangsung.

Namun baru-baru ini, tepatnya Selasa (29/3), Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul, Turki untuk mengupayakan proses perdamaian.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva sendiri menilai dialog tersebut merupakan tren yang baik, khususnya bagi Rusia untuk mencapai tujuannya.

"Jika kami mencapai tujuan kami melalui dialog ini, itu bagus. (Tapi) jika kami tidak mencapai tujuan ini, maka kami akan melakukan operasi militer," kata sang dubes dalam diskusi bersama CEO RMOL Network, Teguh Santosa di Kopi Timur, Rabu (30/3).

Dalam diskusi itu, Dubes Vorobieva mengatakan, Rusia ingin Ukraina setidaknya netral. Meski Moskow berharap Ukraina bisa lebih bersahabat.

Di samping itu, Ukraina tidak menjadi ancaman bagi Rusia dengan tidak membentuk pasukan nuklir dan tidak mengembangkan senjata pemusnah massal.

"Kenapa saya mengatakan ini? Karena ada informasi baru-baru ini, dan telah dikonfirmasi oleh Amerika sendiri, bahwa mereka (Amerika Serikat) membangun lab biologi di Ukraina. Mereka mengembangkan senjata biologis, dan senjata biologi adalah senjata pemusnah massal," jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, ia mengatakan, Rusia akan membawa masalah tersebut ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) karena hal itu telah melanggar hukum internasional.

"Maksud saya adalah, kami tidak ingin merasa terancam melalui Ukraina. Tentu kami tidak diancam oleh Ukraina, tapi (kami) diancam melalui Ukraina," pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya