Berita

Begawan ekonomi, Rizal Ramli saat berdialog bersama masyarakat di Situ Butak, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat/Net

Politik

Rizal Ramli: Tidak Ada Tanggung Jawab Pemerintah saat Solar Langka dan Kebutuhan Pokok Naik

SELASA, 29 MARET 2022 | 15:48 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Kelangkaan bahan bakar jenis solar, minyak goreng, dan tingginya harga kebutuhan pokok belakangan ini, terjadi sebagai akibat dari sejumlah kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat.

Begitu dikatakan begawan ekonomi, Rizal Ramli saat berdialog bersama masyarakat di Situ Butak, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (28/3).

Misalnya, kata Rizal Ramli, dalam konteks ketersediaan bahan bakar solar di beberapa daerah yang mulai langka, karena Pertamina sudah mulai merugi sejak beberapa bulan yang lalu. Padahal, saat harga sedang bagus, Pertamina untung, mereka tidak mempersiapkan cadangan untuk menghadapi situasi sulit hari ini.


"Sehingga pilihan sederhana, pemerintah batasi pembelian solar hanya Rp 100.000 jelas nggak cukup. Karena, selama ini solar dipakai oleh angkutan barang seluruh Indonesia, jadi ini akan mengakibatkan kenaikan harga barang ongkos kirim menjadi lebih mahal," kata Rizal.

Dikatakan Rizal Ramli, ada kemungkinan harga BBM juga akan dinaikkan bisa sampai Rp 1.500 sampai Rp 1.600 per liter. Hal ini, tentu akan menjadi beban baru bagi masyarakat saat terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok. Termasuk juga kenaikan harga tarif listrik, tarif pajak, dan lain-lain.

"Pemerintah ini betul-betul nggak mau tanggungjawab, nggak mampu menjaga stabilitas barang kebutuhan pokok dan tidak ada empatinya sama sekali atas kesusahan rakyat," tambahnya.

Rizal Ramli mengingatkan, sejak dua tahun lalu melalui wawancara media, dia sudah mewanti-wanti akan ada kenaikan harga yang diantisipasi dengan menaikkan produksi dalam negeri.

"Yang terjadi hari ini apa, mereka naikin produksi dengan proyek-proyek begini-begitu. Produksi pangan itu bukan  dengan proyek, kasih insentif para petaninya, minta hasil produksinya dinaikin. Ini malah sibuk dengan proyek," sesalnya.

Menurutnya, buat rakyat itu yang penting nyaman, bukan aman amin. Jadi sesuaikan harga-harga tersebut, sesuai dengan daya beli masyarakat dan tugas pemerintah itu membuat harga kebutuhan pokok terjangkau.

Mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini membandingkan kondisi hari ini hampir sama dengan situasi tahun 1998. Pemerintah saat ini tidak bisa mengendalikan anggaran, tapi jor-joran mau bikin ibu kota baru.

"Akibatnya, pemerintah nggak punya uang untuk menjaga stabilitas kebutuhan pokok. Sehingga rakyat benar benar menderita, dan nggak ada solusinya," pungkasnya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya