Berita

Aktivis 98, Khalid Zabidi/Repro

Politik

Jangan Teriak Tolak atau Dukung, Isu Penundaan Pemilu Harus Dibahas di Parlemen

SENIN, 28 MARET 2022 | 01:36 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Isu penundaan Pemilu 2024 maupun perpanjangan masa jabatan Presiden atau tiga periode harus dibahas di parlemen. Tujuannya, agar rakyat benar-benar mengetahui partai politik mana yang sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi rakyat.

Hal itu disampaikan langsung oleh aktivis 98, Khalid Zabidi di acara Mimbar Bebas bertajuk "Pemilu 2024 Ditunda atau Tidak?" yang diselenggarakan oleh iNewsBogor yang disiarkan secara langsung melalui akun YouTube Bang Hendry Channel, Minggu malam (27/3).

Menurut Khalid, adanya ketakutan partai politik maupun sejumlah pihak soal amandemem UUD 1945 akan disisipkan terkait penundaan Pemilu ataupun perpanjangan masa jabatan Presiden dianggap hanya kekhawatiran tanpa alasan.


"Justru hal-hal seperti ini (isu perpanjangan masa jabatan atau penundaan Pemilu) harus dibicarakannya di parlemen biar jelas, clear and clean kedudukannya," ujar Khalid seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Minggu malam (27/3).

Kalau saat ini kata Khalid, seolah-olah semuanya menjadi panggung dan hanya di luar teriak-teriak menolak atau mendukung, akan tetapi harus diuji di ring formal.

"Jadi saya pikir tidak terlalu meyakinkan pernyataan-pernyataan tolak dan dukung, itu menurut saya adalah bagian dari kepentingan partai politik melakukan manuver. Harusnya memang harus di parlemen dibahasnya, sungguh-sungguh, kita lihat oleh rakyat, benar tidak ini pembahasan ini demokrasi tentang ini baik," jelas Khalid.

Karena menurut Khalid, jika perubahan amandemen dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka rakyat akan mendukung. Akan tetapi, jika perubahan dilakukan tidak sungguh-sungguh, maka rakyat akan bergerak menolak.

Pembawa acara, Hendry CH. Bangun selaku wartawan senior pun mempertegas pernyataan Khalid agar isu penundaan Pemilu ataupun perpanjangan masa jabatan Presiden harus dibahas di ruang formal atau di parlemen.

"Jadi sebenarnya MPR paling baik, tapi sifatnya nanti terbuka, transparan, sehingga rakyat bisa melihat mana yang sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasinya, mana yang hanya sekadar pragmatisme atau pasang topeng?" tanya Hendry.

"Iya kita dorong ini jadi formal gitu. Jangan cuma jadi manuver politik aja gitu," jawab Khalid menutup.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

UPDATE

Wisatawan Banjiri Kepulauan Seribu saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Meruya, 75 Petugas Pemadam Diterjunkan

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:00

10 Desa di NTT Terdampak Banjir

Senin, 23 Maret 2026 | 23:27

KPK Bawa Yaqut Cholil Qoumas ke RS Polri

Senin, 23 Maret 2026 | 23:05

Pengunjung Diimbau Tak Buang Sampah Sembarangan di Taman Bendera Pusaka

Senin, 23 Maret 2026 | 23:01

Yaqut Cholil Kembali ke Rutan KPK

Senin, 23 Maret 2026 | 22:48

Kim Jong Un Terpilih Lagi jadi Presiden Korut

Senin, 23 Maret 2026 | 21:45

Benang Kusut Pengelolaan Keuangan, Kepala BKAD Purwakarta Diminta Mundur

Senin, 23 Maret 2026 | 21:17

Arus Balik H+2 Lebaran Mulai Terlihat di Terminal Rajabasa

Senin, 23 Maret 2026 | 20:24

Pimpinan MPR Sambut Baik Langkah Presiden Prabowo Percepat Transisi Energi

Senin, 23 Maret 2026 | 19:55

Selengkapnya