Berita

Parlemen Afrika Selatan/Net

Dunia

Gara-gara Invasi Rusia ke Ukraina, Politik dalam Negeri Afrika Selatan Pecah Belah

JUMAT, 18 MARET 2022 | 16:33 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Konflik Rusia dan Ukraina telah banyak mempengaruhi politik dalam negeri Afrika Selatan. Saat ini, partai politik besar saling bertarung memilih siapa yang harus mereka dukung.

Sejauh ini, pemerintah Afrika Selatan tidak mengutuk invasi Rusia ke Ukraina, atau mendukung salah satu pihak, yang dipandang sebagai sikap netral.

Wakil Menteri Hubungan dan Kerjasama Internasional, Candith Mashego-Dlamini juga mendesak agar tidak ada perselisihan terkait keberpihakan dalam konflik tersebut.


"Sebagai pemerintah Afrika Selatan, kami mendesak semua orang Afrika Selatan untuk tidak memihak dalam konflik antara Rusia dan Ukraina karena ini dapat bertentangan dengan prinsip kami. Selain itu, kami memiliki hubungan bilateral yang baik dengan kedua negara," ujarnya di parlemen beberapa waktu lalu, sepert dikutip The East African, Jumat (18/3).

Namun terlepas dari pernyataan tersebut, pemimpin partai oposisi, Pejuang Kebebasan Ekonomi (EFF) Julius Malema bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk Afrika Selatan, Ilya Rogachev pada Rabu (16/3).

Malema kemudian menyatakan dukungannya untuk Rusia, dan mengecam Barat.

“Kami menerima informasi langsung tentang operasi militer yang sedang berlangsung di Ukraina dari kedutaan, bukan dari propagandis neo-Nazi," ujarnya.

Ia kemudian menyalahkan NATO yang dinilai telah mengepung Rusia, sebagai ancaman keamanan yang seharusnya dihindari.

Sementara EFF berpihak pada Rusia, partai politik oposisi terbesar di Afrika Selatan, Aliansi Demokratik (DA) berbeda.

Pemimpin DA John Steenhuisen memandang sikap Pretoria yang tampaknya netral justru dinilai berpihak pada Rusia. Hal itu dilandaskan para pernyataan mendiang Desmond Tutu yang menyebut sikap netral dalam situasi ketidakadilan artinya memilih pihak penindas.

Steenhuisen mengatakan pemerintah Afrika Selatan telah memilih sisi sejarah yang salah, dan telah menyeret 60 juta orang Afrika Selatan bersamanya.

"Di bawah lapisan 'netralitas' yang memalukan, pemerintah Afrika Serlatan telah secara efektif menjanjikan dukungan diam-diam untuk pawai kekaisaran Putin untuk memulihkan kerajaannya yang hilang," kata Steenhuisen.

Ia juga menyoroti sikap abstain yang dilakukan Afrika Selatan selama resolusi PBB untuk mengecam invasi Rusia ke Ukraina.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Pentagon Ungkap Biaya Perang Iran: 6 Hari Tembus Rp190 Triliun

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:11

Pasar 1001 Malam: Strategi Kemenko PM Berdayakan UMKM dan Bantu Penyintas Bencana

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:58

Harga Emas Dunia Turun Tertekan Sentimen Suku Bunga

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:47

Dukung PP TUNAS, Kemenag Siapkan Kurikulum Etika Digital dan Santri Mahir AI

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:23

Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:14

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak

Kamis, 12 Maret 2026 | 07:01

Hari Ini Yaqut Cholil Dipanggil KPK sebagai Tersangka

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:49

Rampai Nusantara Ajak Publik Optimistis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:42

Amr bin Ash Pembuka Gerbang Benua Afrika

Kamis, 12 Maret 2026 | 06:00

Kader Gerindra Ujung Tombak Mendukung Program Prabowo

Kamis, 12 Maret 2026 | 05:52

Selengkapnya