Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Dengan Lantang, Aktivis HAM Kutuk Perekrutan Tentara Anak oleh Front Polisario

JUMAT, 18 MARET 2022 | 14:55 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sejumlah akitivis kemanusiaan bersama lembaga masyarakat dengan kompak mengecam perekrutan tentara anak oleh Front Polisario.

Kecaman tersebut disampaikan selama Sesi ke-49 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Perlindungan dan Pemajuan Hak Asasi Manusia pada awal pekan ini.

Dalam pidatonya, Presiden Observatorium Sahara untuk Perdamaian, Demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (OSPDH), Aicha Duihi mengutuk masuknya anak-anak ke dalam pasukan milisi Polisario.


Selama ini, ia mengatakan, anak-anak di Kamp Tindouf dipaksa untuk menjalani pelatihan militer. yang kerap diwarnai propaganda dan kekerasan. Mereka juga didorong melakukan tindakan vandalisme dan intimidasi.

"Polisario terus mengeksploritasi sekolah di Kamp Tindouf untuk mengindoktrinasi anak-anak dengan ideologi mereka, menyerukan kekerasan dan kebencian, sambil memuji perang," ujarnya, seperti dikutip dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (18/3).

Tindakan itu, lanjutnya, telah melanggar Konvensi Hak Anak, yang mengatur pendidikan untuk prinsip dan nilai-nilai kebebasan, persamaan dan toleransi sehingga dapat memantapkan kepribadian anak.

“Hari ini, Polisario terus menciptakan suasana ketegangan di dalam kamp, ​​memuji kepahlawanan militer dan mendorong membawa senjata di antara anak-anak selama upacara dan perayaan,” tambahnya.

Selain Duihi, terdapat Presiden Komisi Independen Hak Asasi Manusia (CIDH), Moulay Lahsen Naji yang turut mengecam pelanggaran serus yang dilakukan oleh Polisario.

Di samping itu, ia juga menggarisbawahi berbagai kasus penghilangan paksa, salah satunya Ahmed Khalil. Khalil dilaporkan menghilang setelah mengkritik para pemimpin Polisario. Ia diculik pada 2009 oleh agen intelijen Aljazair, dan sejak itu tidak ada yang tahu informasi mengenai Khalil.

Kembali ke isu perekrutan tentara anak, aktivis Nour Bouhanana menyebut Aljazair memiliki tanggung jawab untuk memenuhi Konvensi Hak Anak dan harus melindungi anak-anak.

Sesi tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan kegagalan Aljazair untuk memenuhi kewajibannya di bawah hukum internasional.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Pernyataan Eggi Sebut Akhlak Jokowi Baik jadi Bulan-bulanan Warganet

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:40

Senyum Walikota Madiun

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:19

Rapim Kemhan-TNI 2026 Tekankan Sishankamrata sebagai Kekuatan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:55

Legislator PKS Dorong Penyaluran KUR Pekerja Migran Tepat Waktu

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:35

Digiring ke Gedung KPK, Walikota Madiun Malah Minta Didoakan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:20

Bencana Menerjang, BUMN Datang

Senin, 19 Januari 2026 | 23:55

Polisi Bongkar Clandestine Lab Tembakau Sintetis Senilai Rp2 Miliar

Senin, 19 Januari 2026 | 23:37

Mantan Jubir KPK Ali Fikri Raih Gelar Doktor Hukum Unair

Senin, 19 Januari 2026 | 23:11

Napi Bebas Pakai Gawai di Lapas Bukan Kelalaian Biasa

Senin, 19 Januari 2026 | 23:02

Walikota Madiun Maidi Dkk Tiba di Gedung KPK, Sebagian Lewat Belakang

Senin, 19 Januari 2026 | 22:46

Selengkapnya