Berita

Ubedillah Badrun/RMOL

Politik

Aliansi Akademisi Peduli Demokrasi Tolak Pemilu 2024 Ditunda

RABU, 16 MARET 2022 | 13:48 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Penolakan terhadap wacana penundaan pemilihan umum (Pemilu) 2024 kembali mengalir dari elemen akedemisi dari puluhan kampus di seluruh Indonesia. Mereka menamakan dirinya sebagai Aliansi Akademisi Peduli Demokrasi.

Salah satu perwakilan aliansi, Ubedillah Badrun mengatakan, masa depan demokrasi Indonesia kini berada pada titik nadir. Sebab, peluang otoritarianisme semakin terbuka lebar setelah sejumlah elite politik terang-terangan bermanuver untuk mendorong adanya perpanjangan masa jabatan.

Ubedillah menjelaskan, wacana amandemen UUD 1945 kelima menjadi pintu masuk elite politik tidak hanya mengubah aturan mengenai masa jabatan presiden. Ia curiga para elite juga mengubah ketentuam yang membawa Indonesia ke otoritarianisme.


"Sejumlah elite, termasuk pernyataan ketua MPR terakhir (11/03/2022), misalnya, menghendaki agar Pemilu kembali diselenggarakan secara tidak langsung, yang dengan demikian menempatkan kedudukan presiden kembali sebagai mandataris MPR," demikian kata Ubedillah, Rabu (16/3).

Menurut Ubedillah, agenda amandemen konstitusi terkait perpanjangan masa jabatan presiden, jelas mengebiri prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat.

Atas beberapa hal itu, aliansi yang kemudian menyebut sebagai Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) menyatakan menolak semua bentuk upaya untuk mengubah pembatasan masa jabatan presiden.

Selain itu, para akademisi juga menolak adanya amandemen konstitusi untuk tujuan yang bertentangan dengan konstitusionalisme dan demokrasi. Ketiga, menolak penggunaan hukum dan konstitusi sebagai alat politik untuk melayani nafsu kekuasaan, termasuk nafsu kuasa untuk menunda pemilu.

"Keempat, Menyerukan segenap akademisi, civitas akademika untuk mengambil sikap patriotik untuk mempertahankan prinsip konstitusionalisme, demokrasi dan nilai nilai reformasi Indonesia," demikian tuntutan para akademisi itu.

Ubedilah Badrun mengakui sejauh ini sudah ada akademisi dari 31 kampus di seluruh Indonesia. Ia mengakui dukungan terus mengalir dari berbagai kampus lainnya.

Pria yang juga pengajar Universitas Negeri Jakarta ini mengatakan bahwa masa depan demokrasi haruslah dikembalikan ke tangan rakyat.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Wall Street Keluar dari Tekanan, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 08:14

Binar Emas Kembali Berkilau, Harga Melesat Lebih dari 2 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 07:35

Bursa Eropa Menguat Tajam setelah Harga Minyak Turun

Jumat, 18 September 2026 | 07:02

UMKM Binaan Peratamina

Jumat, 18 September 2026 | 05:52

KPK Harus Hati-hati Buka Informasi Dugaan Korupsi Bea Cukai ke Publik

Jumat, 18 September 2026 | 05:25

PPN Kejawanan Diproyeksikan jadi Magnet Pertumbuhan Ekonomi Pesisir

Jumat, 18 September 2026 | 04:57

Momentum Memperkuat Akuntabilitas Belanja Negara

Jumat, 18 September 2026 | 04:25

Pembangunan di Papua Perlu Libatkan Kelembagaan Adat

Jumat, 18 September 2026 | 03:48

Perhutani Dorong Ekonomi Desa Lewat Penyaluran PUMK

Jumat, 18 September 2026 | 03:20

Mengawal Garibaldi

Jumat, 18 September 2026 | 02:55

Selengkapnya